Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Jumat, 22 Oktober 2010

swiss

Konfederasi Swiss (Schweiz, Suisse, Svizzera, Svizra) atau dalam bahasa Latin Confoederatio Helvetica, adalah sebuah negara federal berisi 26 canton di Eropa Tengah yang berbatasan dengan Jerman, Perancis, Italia, Liechtenstein dan Austria. Swiss adalah negara yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari Pegunungan Alpen. Swiss dikenal sebagai negara netral namun tetap memiliki kerjasama internasional yang kuat.
Swiss terbagi atas 26 kanton, enam daripadanya kadang-kadang dianggap sebagai "separuh kanton" karena berawal dari pemisahan tiga kanton dan dampaknya hanya ada satu wakil dalam Dewan Negara. Ibukota negara ini adalah Bern. Kota-kota penting lainnya adalah Zurich, kota terbesar di Swiss (yang dinobatkan sebagai kota yang memiliki kualitas hidup terbaik di dunia pada tahun 2006[1] dan 2007[2].), dan Jenewa, yang menjadi lokasi berbagai badan internasional seperti PBB, WHO, ILO, dan UNHCR.
Swiss berbatasan dengan Jerman, Perancis, Italia, Austria dan kerajaan kecil Liechtenstein. Masyarakat Swiss menuturkan banyak bahasa dan terdapat empat bahasa resmi, iaitu bahasa Jerman, Perancis, Italia dan bahasa Romansh yang kurang populer.
Swiss kaya dengan sejarah sebagai sebuah negara yang netral tanpa memandang masa perang atau damai (dan tidak pernah terlibat dalam perang terhadap pemerintahan asing sejak tahun 1815). Oleh karena itu, Swiss dijadikan tuan rumah pelbagai organisasi internasional seperti PBB yang, meskipun markas besarnya ada di New York City, namun banyak mendirikan kantor di Swiss.
Nama Swiss dalam bahasa Latin, Confoederatio Helvetica yang berarti Konfederasi Helvetika, dipilih untuk menghindari pemilihan salah satu dari keempat bahasa resmi Swiss (bahasa Jerman, Perancis, Italia, dan Romansh). TLD negaranya, .ch, juga diambil dari nama ini. Dari ke-26 kantonnya, 17 berbahasa Swiss-Jerman, 4 Swiss-Romande/Prancis, 1 Italia, 3 bilingual Jerman-Prancis dan 1 trilingual.
Sebutan-sebutan yang sering dipakai untuk menyebut pada Swiss dalam bahasa Perancis (Confédération suisse), bahasa Italia (Confederazione Svizzera) dan bahasa Romansh (Confederaziun svizra) diterjemahkan sebagai "Konfederasi Swiss"). Schweizerische Eidgenossenschaft merupakan istilah bahasa Jermannya yang terdapat pada dokumen resmi. Nama Latinnya "Confœderatio Helvetica" (Konfederasi Helvwtia) dan TLD negaranya "ch" untuk internet dan plat mobil berkaitan dengan Helvetii, suku Keltik kuno yang pernah menduduki pegunungan Alpen. Swiss menandai 1 Agustus 1291 sebagai hari kemerdekaannya; mengikut sejarah negara ini yang awalnya merupakan suatu negara gabungan, kemudian menjadi persekutuan sejak tahun 1848. 1 Agustus dijadikan cuti umum yang mana bank dan kantor pos serta juga kantor administrasi umum ditutup.
Sistem pemerintahannya sangat bagus, benar-benar mencerminkan dan menyerap keanekaragaman penduduknya. Sebagai negara federal, demokrasinya bersifat "langsung", tapi diwakili oleh Majelis Federal. Parlemen ini memilih tujuh orang untuk menjadi "pemerintah". Ketujuhnya berstatus menteri, mengepalai departemen, dan salah satunya menjadi presiden selama satu tahun secara bergiliran. Presiden digilir setiap tahun!
kanton Swiss adalah negara bagian dari negara federal Swiss. Secara historis dan hingga pertengahan abad ke-19, masing-masing kanton dalam konfederasi tersebut saat itu adalah negara yang berdaulat, masing-masing dengan perbatasan, tentara, dan mata uangnya sendiri; struktur federal yang sekarang terbentuk pada 1848.

Sistem Pemerintahan Presidensial
Dalam sistem pemerintahan presidensial, kedudukan eksekutif tak tergantung pada badan perwakilan rakyat. Adapun dasar hukum dari kekuasaan eksekutif dikembalikan kepada pemilihan rakyat. Sebagai kepala eksekutif, seorang presiden menunjuk pembantu-pembantunya yang akan memimpin departemennya masing-masing dan mereka itu hanya bertanggung jawab kepada presiden. Karena pembentukan kabinet itu tak tergantung dari badan perwakilan rakyat atau tidak memerlukan dukungan kepercayaan dari badan perwakilan rakyat, maka menteri-pun tak bisa diberhentikan olehnya.
Sistem ini terdapat di Amerika Serikat yang mempertahankan ajaran Montesquieu, di mana kedudukan tiga kekuasaan negara yaitu legislatif, eksekutif dan legislatif, terpisah satu sama lain secara tajam dan saling menguji serta saling mengadakan perimbangan (check and balance). Kekuasaan membuat undang-undang ada di tangan congress, sedangkan presiden mempunyai hak veto terhadap undang-undang yang sudah dibuat itu. Kekuasaan eksekutif ada pada presiden dan pemimpin-pemimpin departemen, yaitu para menteri yang tidak bertanggung jawab pada parlemen. Karena presiden dipilih oleh rakyat, maka sebagai kepala eksekutif ia hanya bertanggung jawab kepada rakyat.
Pelaksanaan kekuasaan kehakiman menjadi tanggung jawab Supreme Court (Mahkamah Agung), dan kekuasaan legislatif berada di tangan DPR atau Konggres (Senat dan Parlemen di Amerika). Dalam Praktiknya, sistem presidensial menerapkan teori Trias Politika Montesqueu secara murni melalui pemisahan kekuasaaan (Separation of Power ). Contohnya adalah Amerika dengan Chek and Balance. Sedangkan yang diterapkan di Indonesia adalah pembagian kekuasaan (Distribution of Power).

a. Ciri-ciri Sistem Pemerintahan Presidensial
1) Penyelenggara negara berada di tangan presiden. Presiden adalah kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan. Presiden tak dipilih oleh parlemen, tetapi dipilih langsung oleh rakyat atau suatu dewan/majelis
2) Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertanggung jawab kepada presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen/legislatif
3) Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen karena ia tidak dipilih oleh parlemen
4) Presiden tak dapat membubarkan parlemen seperti dalam sistem parlementer
5) Parlemen memiliki kekuasaan legislatif dan menjabat sebagai lembaga perwakilan. Anggotanya pun dipilih oleh rakyat
6) Presiden tidak berada di bawah pengawasan langsung parlemen

b. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial

1.Kelebihan

a. Badan eksekutif lebih stabil kedudu-kannya karena tidak tergantung pada parlemen
b. Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya, masa jabatan presiden Amerika Serikat adalah 4 tahun dan presiden Indonesia selama 5 tahun
c. Penyusunan program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa jabatannya
d. Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat diisi oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri

2. Kekurangan
a. Kekuasaan eksekutif di luar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat menciptakan kekuasaan mutlak
b. Sistem pertanggung jawabannya kurang jelas
c. Pembuatan keputusan/kebijakan publik umumnya hasil tawar-menawar antara eksekutif dengan legislatif sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas dan memakan waktu yang lama.

Menyadari adanya kelemahan dari masing-masing sistem pemerintahan, negara-negara pun berusaha memperbaharui dan berupaya mengkombinasikan dalam sistem pemerintahannya Hal ini dimaksudkan agar kelemahan tersebut dapat dicegah atau dikendalikan. Misalnya, di Amerika Serikat yang menggunakan sistem presidensial, maka untuk mencegah kekuasaan presiden yang besar, diadakanlah mekanisme cheks and balance, terutama antara eksekutif dan legislatif.

Menurut Rod Hague, pada sistem pemerintahan presidensial terdiri dari 3 (tiga) unsur yaitu :

1) Presiden yang dipilih rakyat, menjalankan pemerintahan dan mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan yang terkait.

2) Masa jabatan yang tetap bagi presiden dan dewan perwakilan, keduanya tidak bisa saling menjatuhkan (menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang).

3) Tidak ada keanggotaan yang tumpang tindih antara eksekutif dan legislatif

Sabtu, 24 Juli 2010

SYARAT MENGIKUT YESUS

Juli 24, 2010
Lukas 9:57-62 ( Matius 8:18-22)
Kita lanjutkan pembahasan ajaran Yesus di dalam Lukas 9:57-62. Ini adalah bacaan yang sangat penting dan semoga setiap dari kita dapat memahaminya dengan jelas:
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Perikop yang sejajar ada di Matius 8:19-22
Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Kita akan membahas dari perikop di Lukas karena bacaan di Lukas lebih terperinci.
Apa sebenarnya yang sedang disampaikan oleh Yesus di sini?
Perhitungkan biaya sebelum menyerahkan diri kepada-Nya
Yesus sedang berjalan bersama murid-murid-Nya dan seseorang datang kepada-Nya dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Jelaslah bahwa orang ini sangat terkesan dengan kehidupan dan pengajaran Yesus yang mendorongnya untuk mengungkapkan komitmen yang luar biasa ini, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi”.
Seperti perwira yang di pesan yang lalu, orang ini telah mulai melihat kemuliaan Kristus. Dia telah melihat banyaknya perkara ajaib yang dikerjakan oleh Yesus, dan dia berkata, “Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikut Engkau.” Tetapi jawaban Yesus tampaknya seolah-olah disampaikan untuk mematahkan keinginannya yang berapi-api itu.
Hari ini, jika ada seseorang yang berkata, “Aku akan mengikut Yesus,” maka Anda akan bersorak, “Hore! Puji Tuhan! Halleluyah!” Khususnya jika dia berkata kepada Tuhan, “Aku akan mengikut Engkau kemanapun Engkau pergi.” Akan tetapi Yesus tampaknya malah mengguyurkan seember air dingin ke atas kepalanya, seolah-olah berkata, “Tenang dulu.” Mungkin Anda akan berpikir, “Oh? Ini bukan psikologi yang bagus. Ada orang yang berkata, ‘Aku mau ikut,’ tetapi Engkau malah berkata, ‘Tidak, dengarkan Aku dulu.’”
Yesus berkata kepada ahli kitab itu, “Biar Kuberitahu kamu sesuatu. Serigala punya liang. Dan apakah kau melihat burung-burung di udara? Mereka semua punya sarang. Tetapi Aku, Anak Manusia, Aku tidak punya tempat bahkan untuk menaruh kepalaKu.” Dengan kata lain, Dia sedang menyatakan kepada orang ini, “Sebelum kamu berkata mau ikut Aku kemanapun Aku pergi, pertama-tama kamu harus pertimbangkan dulu tentang apa saja yang berkaitan dengan hal menjadi muridKu.”
Yesus tidak pernah memanfaatkan emosi seseorang. Dia tidak mencoba untuk memacu emosi orang-orang dan dalam luapan emosi itu, mereka lalu berkata, “Bagaimana kalau kita mengikut Yesus?” Lalu yang lainnya terpancing dan berkata, “Ya! Kita akan mengikut Yesus!” Yesus tidak pernah memompa semangat Anda lalu mengambil keuntungan dari luapan semangat Anda. Anda tidak akan pernah menemukan Yesus menginjil dengan cara ibadah massal diiringi paduan suara ribuan orang untuk membakar semangat orang banyak. Tidak pernah!
Musik dan jumlah himpunan massa memiliki dampak yang luar biasa pada manusia. Cara itulah yang dipakai secara efektif oleh Hitler. Jika Anda menyaksikan film tentang Perang Dunia II, Anda akan melihat betapa mengesankan cara Hitler berpidato diiringi dengan parade bendera-bendera merah dengan lambang swastika dan iringan musik militer yang sangat menaikkan semangat. Semuanya diatur dengan tujuan untuk membangkit emosi orang banyak!
Namun perhatikan bahwa Yesus tidak pernah memakai cara-cara seperti itu. Dia malah mengguyur orang itu dengan air dingin. Sering kali, ketika orang-orang yang berkata bahwa mereka mau ikut Tuhan, saya akan berkata, “Tahukah Anda tentang kesukaran yang terkait dengan hal menjadi orang Kristen? Tahukah Anda ongkos untuk menjadi orang Kristen?” Mengapa Yesus berlaku seperti ini? Karena Dia ingin agar setiap orang memperhitungkan dulu ongkosnya sebelum membuat komitmen.
Di tahun 1952, ketika saya masih di China selama masa Perang Korea, para perwira militer datang ke sekolah kami dalam rangka propaganda perang untuk merekrut prajurit atau yang mereka sebut “sukarelawan”. Dan ada banyak anak yang menggunakan berbagai cara untuk membangkitkan emosi sesamanya. Mereka berpidato sambil menangis-nangis, “Negeri kita dalam bahaya! Bangkitlah, marilah kita mempertahankan negara kita yang tercinta!” Dan ada satu orang di kelas kami yang bernama Zhang yang menangis dan menjerit paling keras. Awalnya tak seorangpun yang mau jadi sukarelawan di kelas kami, dan karena tak ada yang mau mengajukan diri, tangisannya semakin menjadi-jadi. Setelah menangis, akhirnya dia berkata, “Aku akan pergi ke Korea dan memerangi orang Amerika.” Setelah dia menyatakan hal tersebut, seorang kawan lain bernama Sun, yang tidak tahan mendengar tangisannya, lalu mengajukan diri sebagai sukarelawan. Namun ternyata pada hari pendaftaran, Zhang tidak maju ke depan. Dia hanya duduk diam di satu sudut. Jadi sekalipun begitu emosional pada awalnya, Zhang ternyata tidak ikut pergi ke garis depan. Dia telah mengerjai kawan yang malang ini dengan membangkitkan emosinya! Hal yang tak pernah bisa saya lupakan adalah tatapan mata Sun yang malang ini. Sebenarnya dia sama sekali tidak mau pergi tetapi dia memberi tanggapan hanya karena emosinya tergugah.
Nah, saya ingin bertanya, apakah orang yang bergabung karena luapan emosi sesaat itu akan menjadi tentara yang tangguh? Jika saya menjadi komandan, saya akan memecat setiap orang yang tidak punya niat untuk berangkat. Saya akan berkata, “Misi ini sangat berbahaya dan sukar, orang yang tidak punya keberanian dan tidak memperhitungkan pengorbanan yang dibutuhkan untuk berangkat, lebih baik mundur sekarang juga.” Hanya prajurit yang tetap mau ikut berjuang sekalipun ia tahu jalannya sangat sukar yang akan bertahan.
Adalah suatu kesalahan yang sangat besar jika Anda menjangkau orang-orang untuk masuk ke dalam Kerajaan dengan mempermainkan emosi. Hanya mereka yang telah memperhitungkan ongkosnya dengan saksama yang akan menjadi prajurit yang paling tangguh. Luapan emosi sesaat tidak akan memampukan Anda bertahan lama di dalam peperangan rohani. Itu sebabnya mengapa ada begitu banyak orang yang mengacungkan tangan dalam KKR untuk menjadi orang Kristen tidak mampu bertahan lama. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengguyurkan air dingin di kepala orang itu, suatu tindakan yang memang perlu dilakukan.
Apakah kelayakan untuk mengikut Yesus?
1. Bersikap tegas dalam hubungan dengan dunia
Apakah makna yang sesungguhnya dari ucapan Yesus itu? Dia berkata kepada orang itu, “Aku tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Ku.” Apa itu artinya? Anda tentu akan selalu bisa menemukan tempat untuk meletakkan kepala, bahkan di taman-taman umum sekalipun. Selalu ada tempat untuk meletakkan kepala, saya pernah mengalami masa ketika saya harus tidur di bangku taman umum. Yesus bisa saja pergi ke padang gurun dan berbaring di sembarang tempat. Bukan itu maksud-Nya. Maksud dari perkataan-Nya adalah, “Jika kamu mau ikut Aku, maka dunia ini tidak bisa menjadi rumah-mu.”
Inilah poin yang pertama: Jika Anda ingin menjadi murid yang sejati dari Kristus, Anda harus jelas bagaimana Anda akan berhubungan dengan dunia.
Banyak orang Kristen yang tidak memiliki sikap yang satu ini. Mereka tidak menyadari bahwa mereka hanyalah orang yang lewat saja. Mereka merasa bahwa dunia ini adalah rumah mereka. Jika demikian halnya, maka Anda tidak akan dapat menjadi murid Kristus. Ibrani pasal 11 berkata bahwa Abraham, bapa orang-orang beriman, memandang dirinya hanya sebagai perantau yang sedang melintasi negeri asing. Dan jika kita ingin menjadi murid yang baik, maka kita harus menegaskan apa sikap kita terhadap dunia ini. Jika Anda mengasihi dunia, maka Anda tidak akan dapat menjadi murid Yesus.
Pada saat berbicara tentang dunia, yang dimaksudkan bukanlah gunung-gunung, hewan-hewan ataupun burung-burung. Kata ‘dunia’ di dalam Alkitab mengacu pada sistem yang ada di dunia ini, sistem buatan manusia yang tidak mematuhi Allah. Jadi kita harus jelas. Jika kita mengasihi dunia, sebagaimana yang dikatakan di 1 Yohanes 2:15, Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang ituu. Anda tidak bisa melayani Allah dan uang di saat yang bersamaan. Anda harus menegaskan sikap Anda. Dan karena banyak orang Kristen yang tidak memastikan sikap mereka pada dunia, maka mereka tidak bisa bertahan lama sebagai orang Kristen. Mereka selalu menginginkan yang terbaik dari kedua sisi. Mereka ingin memperoleh uang dari dunia sekaligus memperoleh Kerajaan Allah juga. Memiliki uang bukanlah suatu dosa. Sikap Anda terhadap uang itulah yang sangat menentukan. Cinta akan uang adalah hal yang akan menghancurkan kita.
Bersiaplah untuk melewati kesukaran dan penderitaan
Tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala sebagaimana yang diucapkan oleh Yesus juga berarti bahwa Anda harus menderita. Yesus sedang berkata, “Kamu tidak akan dapat mengikut Aku kalau kamu tidak bersedia menanggung kesukaran.” Menjadi orang Kristen bisa berarti Anda akan menanggung banyak kesukaran. Anda harus siap. Dan Yesus ingin agar Anda memahami hal ini dengan baik. Alkitab berbicara banyak tentang kesukaran, dan ini bukan karena Tuhan mau menyengsarakan Anda melainkan karena Anda memang akan menderita di jalur pemuridan ini.
Di China, kami tahu bahwa jika kami menjadi orang Kristen, maka kami akan menanggung kesukaran. Kami tak perlu diceramahi tentang hal itu. Jika saya tinggal di China, saya tak akan pernah memperoleh pendidikan; saya tak akan bisa masuk universitas karena saya tak akan diizinkan masuk universitas sebagai orang Kristen. Jadi, sebagai orang Kristen di China, maka saya harus siap untuk menerima kesukaran – yaitu kesukaran dalam bentuk selamanya menjadi buruh. Saya tak akan bisa lebih dari itu. Maksudnya, bahkan sekalipun saya memiliki ijazah sekolah menengah, mereka akan tetap memasukkan saya ke pekerjaan sebagai buruh. Nah, menjadi buruh bukanlah hal yang memalukan. Menjadi buruh juga bagus. Akan tetapi itu berarti bahwa sumbangan saya akan dibatasi hanya dalam bidang itu saja. Saya tidak akan diizinkan untuk mengerjakan hal yang lain. Akan tetapi itu baru kesukaran kecil saja jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa saya akan berada di bawah pengawasan pemerintah di sepanjang hidup saya. Saya akan selalu diinterogasi untuk setiap kegiatan saya, hal yang sudah pernah saya alami. Jadi, sebagai orang Kristen, kita harus siap menerima kesukaran.
Belajar disiplin diri
Akan tetapi di dunia yang serba makmur sekarang, saya mendapati bahwa orang-orang Kristen menjadi lembek. Anda harus tetap tangguh. Walaupun lingkungan kita sekarang ini sangat nyaman, tetapi kita perlu belajar banyak tentang disiplin pribadi. Kita tidak perlu mengambil pilihan yang gampang sekalipun pilihan itu tersedia. Sekiranya mungkin, saya ingin agar setiap orang Kristen memiliki semacam disiplin fisik, misalnya dengan berolah raga atau kegiatan lain yang dapat menguatkan jasmani Anda. Displin fisik adalah hal yang bagus untuk tubuh dan jiwa Anda.
Banyak sekali para pelayan dan hamba Tuhan yang terlalu tidak mempunyai disiplin diri. Mereka membiarkan tubuh mereka menjadi tidak sehat karena tidak ada penguasaan diri dalam hal makanan dan olahraga. Hal ini sungguh bukan suatu kesaksian yang baik. Setiap orang Kristen perlu untuk belajar mendisiplin diri sendiri.
Salah satu cara sederhana kita dapat mendisiplin diri kita adalah dengan tidak selalu menikmati hidangan yang lezat. Lewat makanan, kita dapat belajar tentang disiplin pribadi. Sekalipun kita mampu membeli makanan mewah setiap harinya, kita bisa belajar untuk makan hidangan yang lebih sederhana. Biarlah setiap orang Kristen menjadi prajurit yang baik dan berdisiplin. Inilah hal yang dikatakan oleh Paulus kepada Timotius di dalam 2 Tim 2:3. Dia berkata kepada Timotius, “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.“
Begitu juga dengan para orang tua, Anda harus mengajarkan disiplin kepada anak-anak Anda. Ajak mereka berlari atau berolah-raga. Jadikan mereka anak-anak yang tangguh, bukannya anak-anak yang lemah dan gendut. Lihatlah di sekeliling Anda, para murid yang sejati adalah orang-orang yang tangguh dan berdisiplin. Mereka tahu apa arti pengendalian diri. Orang yang manja hanya akan menjadi orang Kristen yang manja. Beberapa orang telah membinasakan anak-anak mereka karena terlalu memanjakan anak-anak mereka. Jadikanlah anak-anak Anda pribadi yang tangguh. Kita harus mengasihi mereka tetapi kita juga perlu bersikap tegas. Disiplin adalah hal yang baik. Mereka akan lebih mengasihi Anda karena Anda cukup mengasihi mereka hingga mau berusaha untuk mendisiplin mereka.
Saya berlatih lari selama kondisi tubuh saya memungkinkan. Dan saya tahu bahwa Billy Graham juga melakukan lari pagi setiap harinya. Itulah tepatnya hal yang dikatakan oleh rasul Paulus mengenai apa yang dia kerjakan buat dirinya di dalam 1 Korintus 9:27, “Aku mendisiplin diriku. Aku bahkan sampai mengendalikannya secara ketat.” Itu adalah ungkapan untuk menunjukkan bahwa dia mendisiplin dirinya sendiri. Orang yang punya disiplin diri tahu bagaimana mengendalikan dirinya dalam hubungannya dengan hal-hal keduniawian. Doa saya adalah agar gereja-gereja kita nanti membangkitkan generasi Kristen yang merupakan laskar Yesus Kristus sejati.
2. Bersikap tegas terhadap kewajiban-kewajiban duniawi
Hal kedua yang dikatakan oleh Yesus di dalam Lukas 9:59-60 adalah hal yang lebih sulit untuk dipahami. Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
Pokok pertama tadi adalah tentang hubungan di antara diri kita dengan dunia. Di dalam pemuridan, Anda harus memiliki sikap yang tegas dalam hubungan Anda dengan dunia. Akan tetapi ini bukanlah hal yang mudah apalagi jika hal itu berkaitan dengan masalah kewajiban. Hal inilah yang ditangani di sini.
Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Tetapi orang itu menjawab, “Yah, tapi izinkan aku menguburkan ayahku dulu. Aku punya kewajiban terhadap ayahku. Ayahku sudah meninggal, dan aku harus menguburkannya.” (Orang Yahudi mempunyai kebiasaan mengadakan upacara penguburan selama 7 hari. Dalam beberapa kasus, masa berkabung itu bisa mencapai 70 hari.) Jawaban Yesus terhadap orang ini sungguh mengejutkan, “Ikutlah Aku… Biarlah orang mati menguburkan orang mati.”
Tetapi bukankah kita harus menghormati orang tua kita? Ajaran Tuhan di bagian manapun juga menyuruh Anda untuk menghormati orang tua Anda. Malahan di dalam Markus 7:11-12, Dia menegur keras orang-orang Farisi karena tidak menghormati ayah dan ibu mereka. Namun di sini, tanggapan Yesus sangat mengejutkan, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sikapnya seolah-olah bertolak belakang dengan apa yang pernah Dia nyatakan kepada orang-orang Farisi sebelumnya. Bagaimana cara kita untuk memahaminya?
Kita benar-benar terkejut melihat tanggapan semacam itu karena perintah yang kelima menuntut kita untuk menghormati orang tua kita. Dan Yesus memang sangat mendukung hal itu. Dia berkata, “Aku datang untuk menggenapi Hukum Taurat, bukan untuk meniadakannya.” Jadi bagaimana kita bisa memahami jawaban-Nya yang mengejutkan di ayat 60 itu?
Kasihilah orang tuamu, tetapi kasihilah Tuhan lebih dari yang lain
Untuk memahaminya, kita harus meninjau bagaimana kita menangani kewajiban-kewajiban kita di dunia. Poinnya adalah: kita tentu saja harus mengasihi ayah dan ibu kita, akan tetapi ada keadaan di mana kita harus membuat pilihan, di mana kita tidak dapat melakukan keduanya. Kita harus memilih satu atau yang lain. Dan itulah hal yang terjadi di dalam bacaan ini.
Pada bagian yang lain, di dalam Matius 10:37, Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi ayah, ibu, istri, anak laki-laki atau anak perempuannya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Bagaimana cara kita menerapkannya? Nah tentu saja kita harus mengasihi ayah, ibu, istri dan anak-anak kita, dan juga orang-orang yang dekat dengan kita. Akan tetapi ketika kita dihadapkan dengan suatu pilihan, maka kita harus mengasihi Dia lebih daripada semua yang lainnya. Inilah poin yang sedang dinyatakan oleh Yesus.
Apa pilihan yang terlihat di sini? Setelah perikop ini, di awal Lukas pasal 10, Yesus mengutus para murid untuk pergi memberitakan Injil ke seluruh Israel. Mereka sedang bersiap untuk berangkat. Mereka tak bisa menunggu sampai 7 hari. Mereka tak bisa menunggu satu orang ini menyelesaikan 7 hari upacara penguburan. Pekerjaan Kerajaan sangatlah penting. Hidup kekal bagi banyak orang tergantung padanya. Para murid sedang bersiap untuk pergi memberitakan Injil. Ada berapa banyak orang di Israel yang meninggal dalam seminggu? Jika tradisi ini dipegang terus, maka mereka tidak akan pernah mendengar pesan dari Kerajaan. Mereka tidak boleh menunda pekerjaan selama ada orang yang mengadakan upacara penguburan. Nah, jika Anda bersiap untuk pergi memberitakan Injil dan ayah Anda yang terkasih meninggal, apakah pilihan Anda? Menyelesaikan upacara penguburan atau berangkat memberitakan Injil? Suatu pilihan yang sukar. Tentu saja kita sangat mengasihi ayah kita. Akan tetapi kita mengemban tanggung jawab untuk memberitakan Injil. Manakah yang akan Anda pilih? Para murid harus memilih untuk memberitakan Injil.
Coba pikirkan persoalan orang ini. Dia bisa saja berkata, “Lihat, jika aku tidak menguburkan ayahku, lalu bagaimana aku menunjukkan hormatku kepadanya? Bagaimana kerabatku akan menilai aku sebagai orang Kristen? Kalau aku harus memilih memberitakan Injil pada saat ini karena misi ini lebih penting dan kemudian pergi menguburkan ayahku, apa kata para kerabatku nanti?” Apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen di zaman ini. Mereka akan berkata, “Maafkan saya, saya tidak bisa berangkat. Saya harus menguburkan ayah saya.” Bisa saya katakan bahwa bukan hanya 99% yang akan melakukan hal itu, tetapi mungkin sampai 99,9% akan melakukan hal itu. Kebanyakan orang Kristen akan berkata, “Jika aku tidak pergi menguburkan ayahku, maka aku akan mempermalukan Tuhan.” Itulah jawaban berbau rohani yang akan mereka berikan. Setidaknya masih berupa jawaban yang terdengar rohani. Akan tetapi apakah itu rohani?
Akan tetapi dengarkanlah ajaran Tuhan sekalipun hal itu membuat Anda merasa tidak nyaman. Ajaran Yesus memang sangat menusuk. Dia berkata, “Jika kamu berhadapan dengan pilihan ini, lalu apakah pilihanmu? Pilihanmu adalah berangkat memberitakan Injil kalau kamu mau menjadi murid-Ku. Akan tetapi jika pilihanmu adalah menguburkan ayahmu, maka kamu hanya mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan oleh orang mati. Kamu tidak membutuhkan hidup untuk mengerjakan itu.”
Ada satu prinsip rohani yang sangat penting yang muncul di sini: Anda tidak perlu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh orang yang mati secara rohani. Dengan kata lain, ayah Anda meninggal, dan memang bagus kalau Anda mengasihinya. Akan tetapi jika Anda memang mengasihinya, kasihilah dia selagi dia masih hidup. Jika dia sudah meninggal, tak banyak lagi hal yang bisa Anda lakukan buat dia.
Jika ayah atau ibu Anda masih hidup, kasihilah mereka sekarang juga. Ingatlah, mereka tidak akan selalu ada bersama dengan Anda. Suatu hari nanti, mereka akan pergi, sama halnya dengan orang tua saya yang sudah meninggal. Saya juga sangat mengasihi mereka. Nah, jika saya tidak mengasihi mereka di saat mereka masih hidup, maka semuanya akan terlambat kalau mereka sudah meninggal. Akan ada saatnya di mana orang tua Anda akan meninggal. Kasihilah mereka sekarang. Sekaranglah saatnya untuk mengasihi mereka. Sekaranglah saatnya menunjukkan kepada mereka betapa besar kasih Allah kepada mereka melalui Anda.
Akan tetapi ada juga orang yang sangat aneh. Di sepanjang hidup mereka, mereka tidak begitu peduli pada orang tua mereka; mereka tidak menyukai orang tua mereka. Dan ketika orang tua mereka meninggal, mereka membeli peti mati yang terindah buat orang tua mereka. Mereka memborong segunung kembang. Mereka mencari tempat yang terbaik untuk penguburan. Tetapi bagi orang tua Anda, apakah ada bedanya jika peti mati mereka terbuat dari perunggu atau dari kayu? Tak ada manfaatnya buat mereka. Dan mereka juga tidak bisa menikmati segunung kembang yang Anda borong. Alasan mengapa mereka melakukan hal ini adalah karena hati nurani mereka terusik. Mereka berpikir, “Di sepanjang hidupku, aku tidak mengasihi orang tuaku. Sekaranglah saatnya untuk melunasi semua itu. Aku akan membelikan peti mati yang bagus buat mereka.” Jadi hal yang diajarkan oleh Tuhan adalah ini: Jika mereka sudah meninggal, tak banyak lagi hal yang bisa Anda kerjakan buat mereka. Jika Anda bisa hadir di saat penguburannya, baguslah. Silakan melakukan yang terbaik bagi mereka.”
Akan tetapi jika Anda dihadapkan dengan pilihan antara melakukan penguburan atau pergi memberitakan Injil, maka setiap murid akan berkata, “Aku harus pergi memberitakan Injil.” Saya menemukan bahwa ada begitu banyak hal yang sedang dikerjakan oleh orang-orang Kristen yang seharusnya bisa mereka tinggalkan saja untuk dikerjakan oleh mereka yang non-Kristen. Tetapi memberitakan Injil adalah perkara yang tidak dapat dikerjakan oleh orang non-Kristen. Akan tetapi orang non-Kristen bisa menguburkan orang mati. Anda tidak perlu mengerjakan hal itu. Itu sebabnya, jika Anda harus memilih, maka pilihlah perkara yang bisa Anda kerjakan tetapi tidak bisa mereka kerjakan. Nah, di dalam banyak bidang pekerjaan, hal yang sama berlaku juga.
Jika Anda memiliki karunia dan panggilan untuk memberitakan Injil, maka itu adalah sesuatu yang bisa Anda kerjakan tetapi tidak bisa dilakukan oleh orang non-Kristen. Jadi pengajaran yang terdapat di sini tepat sama dengan yang diajarkan oleh Yesus di dalam Matius 10:37. Yaitu bahwa, bagaimanapun juga Anda harus mengasihi ayah dan ibu Anda. Akan tetapi jika Anda berhadapan dengan pilihan, maka Anda harus mengasihi Yesus lebih dari mereka.
Sama halnya dengan itu, saya ingin agar istri saya mengasihi saya. Dia harus mengasihi saya dan saya ingin agar dia mengasihi saya. Akan tetapi saya ingin agar dia mengasihi Tuhan lebih daripada saya. Sangatlah penting baginya untuk mengasihi Yesus lebih daripada saya karena inilah hal yang dituntut oleh Yesus. Yesus jauh lebih besar daripada saya, oleh karena itu sangatlah penting agar Dia lebih dikasihi daripada saya.
Sesuatu yang indah muncul dari sini. Saat seseorang mengasihi Yesus lebih daripada Anda, maka kasihnya pada Anda tidak akan berkurang, bahkan bertambah. Jadi bagi Anda yang akan menikah: pastikanlah bahwa suami atau istri Anda mengasihi Tuhan lebih daripada Anda. Semakin dia mengasihi Tuhan dia akan semakin mengasihi Anda juga. Inilah hal yang ajaib. Akan tetapi, semakin Anda membawa dia untuk lebih mengasihi diri Anda ketimbang Tuhan, maka kasih mereka kepada Anda juga akan semakin berkurang seiring dengan waktu. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Saya sendiri masih belum bisa menguraikannya. Akan tetapi ini adalah hal yang benar.
Jika Anda adalah orang tua, jangan pernah melakukan kesalahan dengan berkata, “Kamu harus mengasihi ayah dan ibumu. Dan setelah itu barulah kamu mengasihi Yesus.” Pada akhirnya Anda akan mendapati bahwa, mereka tidak mengasihi Yesus, dan terlebih lagi, mereka sangat tidak mengasihi Anda. Akan tetapi jika Anda katakan pada mereka, “Kasihilah Yesus lebih daripada ayah dan ibumu. Yesus selalu yang pertama,” maka akan terjadi perkara yang mengagetkan. Mereka akan mengasihi Yesus dan juga semakin mengasihi Anda. Mereka akan mengasihi Anda lebih dari yang biasanya. Ini adalah perkara yang sangat ajaib.
Prinsip yang sama juga terjadi dalam hal mencari dahulu Kerajaan Allah dan segala sesuatu akan ditambahkan pada Anda. Mungkin rahasianya terletak pada saat mereka lebih mengasihi Allah, maka Allah menaruh kasih di dalam hati mereka untuk mengasihi Anda. Jadi semakin suami Anda mengasihi Tuhan, maka semakin dia mengasihi Anda dengan kasih yang lebih murni dan kuat. Semakin istri Anda mengasihi Tuhan, maka semakin dia mengasihi Anda dengan kasih yang murni dan kuat. Jadi tidak ada yang perlu khawatir mengenai ajaran Tuhan ini.
Sangatlah besar kasih Yesus pada ibu-Nya! Dia selalu menempatkan Kerajaan sebagai yang terutama, akan tetapi sangatlah besar kasih-Nya kepada ibu-Nya. Saya rasa tidak ada seorang anakpun yang mengasihi ibunya lebih dari kasih Yesus. Sekalipun Dia sedang tergantung di kayu salib dalam kesakitan dan menjelang ajal, Dia masih punya waktu untuk ibu-Nya. Dan di kayu salib itu Dia menetapkan rencana buat ibu-Nya, Dia mengatur agar murid-Nya yang terkasih akan merawat ibu-Nya. Dan kita juga bisa melihat bahwa ibu-Nya tahu betapa besar kasih Yesus padanya. Dia ikut kemanapun Yesus pergi. Ada berapa banyak ibu yang mengikut anaknya sebagai seorang murid? Sedemikian besar kasihnya kepada anaknya sehingga sampai di kayu salib pun, dia ada di sana.
Jadi, yang Yesus ajarkan adalah di saat menghadapi pilihan, kasihilah orang tua Anda, akan tetapi kasihilah Tuhan lebih dari yang lainnya. Ketika ibu saya meninggal, saya sedang memberitakan Injil di Ontario. Saat telegram yang memberitakan kematian ibu saya tiba, apakah Anda pikir saya langsung menghentikan khotbah saya dan bergegas menuju penguburan ibu saya? Saya sangat mengasihi ibu saya bahkan sampai ke saat ini. Akan tetapi jika saya harus memilih antara memberitakan Injil dan menguburkan ibu saya, saya pilih untuk tetap di tempat dan memberitakan Injil sekalipun hal itu sangat menyedihkan bagi saya. Inilah pilihan yang harus selalu dipegang oleh setiap murid. Saat Anda harus memilih, selalu tempatkan Tuhan di pilihan pertama. Jadi poin yang kedua ini berkaitan dengan kewajiban-kewajiban kita di dunia ini.
3. Bersikap tegas dengan hal-hal yang telah kita tinggalkan
Dan poin yang ketiga sekaligus menjadi poin penutupnya. Di sini ada orang yang mengatakan hal yang sama kepada Tuhan, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan.” Lalu dia melanjutkan, “Tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. (But first, let me say farewell to those at my home, KJV?) Nah, kelihatannya ini adalah hal yang sangat masuk akal. Setidaknya saya boleh berpamitan. “Tentunya, Engkau tak akan berkata bahwa aku akan mengikut Engkau tetapi aku tak Kau ijinkan untuk pulang berpamitan. Karena itu berarti aku langsung menghilang dari mereka?” Tentu saja, bagian ini tidak memberitahu kita di manakah rumah orang tersebut. Dan mungkin saja rumahnya cukup jauh. Mungkin butuh waktu dua hari perjalanan pulang-pergi.
Akan tetapi itu bukan hal yang dipersoalkan di sini. Yang menjadi persoalan adalah: But first, let me say farewell (tetapi pertama-tama, ijinkanlah aku pamitan. Kata first/pertama-tama tidak terdapat dalam terjemahan LAI tetapi ada di dalam naskah sumber, pent.). “Pertama-tama” ada sesuatu hal yang akan kukerjakan dahulu sebelum aku bisa memberitakan Injil. Yesus segera melihat ada sesuatu yang salah dengan pemikiran orang ini. Di dalam Kerajaan Allah, tidak ada hal yang diutamakan melebihi Yesus. Kata “pertama-tama (first)” adalah kata yang penting di sini. Jika dia berkata, “Ijinkanlah aku pulang berpamitan.” Maka tidak akan timbul masalah. Akan tetapi kata “first/pertama-tama” memiliki makna sangat penting. Jika Anda perhatikan kalimatnya, sepertinya bisa diucapkan dengan kalimat, “Ijinkanlah aku pulang berpamitan.” Dan kalimat yang ini tentu saja tidak ada masalahnya. Itulah kalimat yang diucapkan oleh Elisa kepada Elia: “Ijinkanlah aku berpamitan dengan orang tuaku.” Dan Elia berkata, “Baik, pergilah.” Akan tetapi di sini, ada kata penting “first/pertama-tama”.
Anda tidak boleh menaruh hal lain di tempat pertama melebihi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Yesus segera melihat ke dalam hatinya dan mengerti apa yang dipikirkannya. Kemudian keluarlah tanggapan dari Yesus. Dia berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Jangan terus menerus menoleh ke belakang
Di sini, sangatlah penting untuk melihat dan memahami penekanan dari bentuk kalimat present continuous tense (bentuk waktu sekarang yang berkelanjutan) dalam tata bahasa Yunani, dan penekanan tersebut tidak terungkapkan dengan baik di dalam terjemahan bahasa Inggris (juga dalam bahasa Indonesia). Di dalam tata bahasa Indonesia, kata “menoleh ke belakang” bisa berarti sekadar menoleh satu kali. Akan tetapi di dalam tata bahasa Yunani, sebenarnya hal tersebut harus diterjemahkan “terus menerus menoleh ke belakang”. Artinya, dia terus saja menoleh ke belakang. Coba bayangkan bahwa Anda sedang membajak dengan kepala yang terus saja menoleh ke belakang. Bagaimana Anda bisa membajak sawah?
Dengan kata lain, poin yang terakhir ini berkaitan dengan minat-minat kita terhadap dunia, terhadap hal-hal yang terus saja membuat kita menoleh ke belakang, ke arah dunia. Jika Anda ingin menjadi murid tetapi Anda terus saja menoleh ke arah dunia, ikatan Anda dengan dunia serta minat Anda pada dunia, lupakan saja keinginan untuk menjadi murid! Anda tidak akan pernah menjadi murid. Hal ini terlihat di dalam sikap banyak orang Kristen yang tidak mau mematahkan ikatan mereka dengan dunia. Mereka terus saja menoleh ke belakang.
Sebagai contoh, misalnya saya telah meninggalkan pekerjaan saya untuk melayani Tuhan tetapi saya terus saja menoleh ke belakang sambil berkata, “Seandainya saja aku bisa kembali pada pekerjaanku.” Jika demikian halnya, mungkin lebih baik saya tidak pernah memulai pelayanan sama sekali. Menjadi seorang Kristen adalah perkara “menghancurkan periuk Anda”, atau “menenggelamkan kapal Anda”. Tak ada jalan kembali. Ibarat “membakar jembatan pulang”. Hanya ada jalan maju, tidak ada jalan kembali. Pepatah ini berasal dari peristiwa yang terkenal di masa lalu. Seorang jenderal membawa pasukannya menyeberangi sungai dan kemudian ia memerintahkan semua kapal-kapal ditenggelamkan. Dia berkata kepada pasukannya, “Di belakangmu sekarang ini hanya ada sungai. Tidak ada kapal bagi kalian untuk kembali. Kalian akan berperang di sini, dan pilihannya adalah menang atau mati.” Dan tidak sekadar menenggelamkan kapal, dia juga menghancurkan periuk-periuk untuk masak. Dia berkata, “Jika kalian tidak menang, maka kalian tidak bisa mendapatkan makanan lagi.”
Jadi, kita bisa melihat bahwa sikap inilah tepatnya yang diminta oleh Yesus dari murid-murid-Nya. Majulah ke depan, jangan menoleh terus ke belakang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus, “Melupakan hal-hal yang ada di belakang, kita berlari terus ke depan menuju garis akhir.” Maksudnya adalah, “Bagiku, tak ada jalan mundur. Aku sudah membuat keputusan. Aku akan maju terus ke depan mulai sekarang.” Jika Anda berniat untuk maju melayani Tuhan, janganlah selalu berkata, “Aku akan membuka sedikit celah buatku untuk kembali jika sewaktu-waktu situasi menjadi panas.” Anda tidak akan pernah menjadi murid.
Rangkuman
Apakah Anda bersedia menghadapi kesukaran untuk memberitakan Injil?
Kita perlu merangkum ketiga poin tersebut. Menjadi seorang Kristen berarti pertama-tama kita harus menegaskan sikap kita kepada dunia. Kita harus bersedia menanggung kesukaran dan disiplin. Dan orang yang tidak siap untuk menjalankan hal ini tak akan pernah melayani Tuhan. Banyak orang yang berkata kepada saya, “Aku akan melayani Tuhan dan juga menjalani pekerjaanku di saat yang sama.” Tentu saja, akan tetapi apakah yang menjadi alasan yang sebenarnya di balik itu? Memang benar bahwa tidak semua orang mendapat panggilan untuk memberitakan Injil. Akan tetapi ada beberapa orang yang dipanggil untuk itu, dan mereka menolak karena mereka tak sanggup menanggung kesukarannya. Jika Anda berpenghasilan Rp10 juta saat ini, apakah Anda bersedia menerima Rp 1 juta untuk menjadi penginjil? Bersediakah Anda menerima penghasilan yang tinggal 10 persen? Bersediakah Anda menerima standar kehidupan yang terpotong sedemikian rendah? Banyak orang menolak untuk memberitakan Injil karena mereka tak dapat menghadapi kesukarannya. Jadi mereka lalu membuat alasan dengan berkata, “Yah, saya masih bisa melayani Tuhan di gereja.” Tentu saja Anda bisa, tidak ada yang akan berkata bahwa Anda tidak boleh. Akan tetapi apakah itu merupakan alasan yang sebenarnya tentang mengapa Anda tidak melayani Tuhan secara full time?
Di dalam aspek lain dari kehidupan Kristen, misalnya Anda ternyata tidak memberi untuk pekerjaan Tuhan sebanyak yang seharusnya Anda mampu berikan. Jika kita bersedia untuk sedikit mengambil bagian dalam kesukaran, saya yakin bahwa hampir semua orang seharusnya berperan lebih banyak lagi bagi pekerjaan Tuhan di gereja atau di bidang yang lain dalam pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, kita mestinya bisa menimbun lebih banyak lagi harta di surga. Kita bisa melakukan lebih banyak hal bagi Tuhan jika kita bersedia memberi lebih banyak bagi Tuhan. Banyak orang berkata, “Bagaimana saya bisa melayani Tuhan?” Nah, inilah bidang pelayanan yang bisa Anda kerjakan – memberi bagi pekerjaan Tuhan. Inilah hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang Kristen, bahkan oleh mereka yang masih bersekolah. Daripada membeli es krim lebih banyak, Anda bisa berikan uang itu bagi pekerjaan Tuhan. Namun ketika kita harus memilih antara coca cola atau air putih, kita cenderung memilih coca cola dengan membayar sekian ribu rupiah untuk itu. Sebenarnya, harganya cukup mahal dan berakibat buruk buat gigi Anda karena mengandung terlalu banyak gula. Juga berakibat buruk bagi tubuh Anda. Hanya sekadar terasa enak. Padahal, dokter sudah memberitahu Anda bahwa kandungan gulanya buruk buat kesehatan jantung Anda. Minuman ini juga mengandung sakarin. Jika Anda seorang pria dan Anda mengkonsumsi terlalu banyak sakarin, maka Anda menghadapi resiko terkena kanker kandung kemih. Jadi, Anda bayar sekian ribu untuk merusak gigi Anda, mendapatkan penyakit jantung, dan mengambil resiko kanker kandung kemih, padahal uang tersebut bisa Anda gunakan untuk pekerjaan Tuhan. Aneh, bukankah demikian? Cukup layak untuk dipikirkan.
Apakah saya harus keluar memberitakan Injil atau tinggal demi orang-orang yang saya kasihi?
Lalu yang kedua, kita perlu menegaskan hubungan kita dengan berbagai kewajiban kita di dunia ini, bahkan terhadap mereka yang sangat kita kasihi. Di sanalah tepatnya persoalan kita berawal. Karena kita sangat mengasihi mereka sehingga kasih itu menjadi penghambat. Jika saya harus memberitakan Injil, kadang kala saya harus berada jauh dari rumah untuk waktu sekitar seminggu atau lebih. Suatu hal yang berat bagi orang-orang yang saya kasihi. Berat bagi istri dan anak saya. Apakah saya harus berkata bahwa saya tidak akan pergi memberitakan Injil karena istri saya akan kesepian, bahwa dia akan kesulitan transportasi, dan dia akan menghadapi bahaya karena tinggal sendirian, dan dengan demikian saya tidak akan pergi memberitakan Injil? Saya mau tinggal di rumah saja! Tidak, kita harus menegaskan hubungan kita dengan segala macam kewajiban itu, bahkan kewajiban terhadap orang-orang yang kita kasihi.
Dan terakhir, setiap murid yang sejati bersikap tegas terhadap segala minatnya pada dunia. Dia bersiap untuk membakar jembatan di belakangnya, untuk melayani Tuhan tanpa menoleh terus menerus ke arah belakang.
Di mana kedudukan Anda di dalam gambaran dari ajaran Tuhan ini? Kita berkata bahwa kita mengasihi Yesus. Apakah pernyataan itu tahan menghadapi ujian ini? Jika kita benar-benar mengasihi Yesus, apakah kita memandang ajaran-Nya sebagai hal yang sulit? Biarlah Firman Allah menguji hati kita untuk melihat apakah kita ini benar-benar murid yang sejati.

Kamis, 10 Juni 2010

tugas psg kkpi

TUGAS ms acces I
.
1.E
2.E
3.A
4.D
5.C
6.E
7.A
8.A
9.B
10.E
11.D
12.D
13.D
14.A
15.A
16.A
17.E
18.B
19.C
20.D
21.E
22.E
23.C
24.C
25.B


Tugas ms acces II

1. TABLE : memasukan data record yang dpt di lakukan dg melalui jendela memasukan data sheet view dari sebuah table
Record:untuk menghapus atu/lebih record atau table pd tampilan data sheet view
FIELD: Nama field yg ada dalasm daftar table
2.-klik create table in design fiew
-klik 2 x sehingga terbuka jendela
- masukan nama file
-tentukan primary key
-klik access pd pojok kanan atas
-klik yes, berio nama table
-ok
3-klik nquerieis pada bagian objek
- klik 2x create query design fiew
- kemudian akan tampil daftar queries
-pilih nama table dalam daftar show table
-klik add
- klik 2 x nama file yg ada di pafda daftar sehingga nama nama file tersimpan dalam daftar queries pada kolom jumlah nilai masukan rumus buat rumus nilai atau bo2t
- kemudian klik close pd shout p-ada kanan atas
4 form : untuk membuat data base baru yg masih kosong anda dpt menambahkan objek
5klik form pada objek
-klik create form by using
- klik tanda { < >}
- next 4x
-finish
- klik fiew lalu maximas
6-buka form
-buat header form dg mengklik I con
-drug bar antara form and header detail sehingga terbentuk baris kosong
-isi kata 2 contoh siswa baru;
-untuk mengisi form header
7.tanda + tarik
-Aa (label) tarik bebas terus
-klik table
-klik bebas
-klik lagi rata tengah,ukuran dan warna
8.firstrecord:untuk awal record
Last record:untuk akhir record
Previus record : untuk record sebelumnya
Next record :Untuk record berikutnya
New record :untuk record baru





Tugas power poin

1.E
2.C
3.A
4.A
5.A
6.D
7.A
8.C
9.B
10.C
11.C
12.C
13.B
14.D
15.C
16.E
17.B
18.B
19.B
20.A




1. -Klik view
-klik Header and Footer
-lalu klik Switch Between Header and Footer
2. –Klik View
-klik header and Footer
-klik Insert Time
-pilih dan Klik Insert Auto Text
-lalu klik File name
3. -Insert Auto text = menyisipkan Text dan memberikanb nomor halaman yang sudah tersedia dalam Ms. Word
-Insert Page Number = menyisipkan nomor halaman
-Insert Number Of pages = menyisipkan nomor halaman
-Insert Date = menyisipkan tanggal
-Insert Time = menyiipkan jam
-page setup = mengatur posisi header and footer
-Swich Between Header and foteer = mengatur header and foteer pada posisi bawah.
-Show previous= untuk menampilkan halaman header and footer sebelumnya.
-Show Next = untuk menampilkan halaman header and footer berikutnya.
-Close = untuk menutup tampilan header and footer.
4. Klik menu Format-paragraf
Klik OK
5. –Blok semua paragraph 4.
-klik format
-klik Font
-pada kolom Effects pilih dan klik All Caps
-lalu klik OK

Selasa, 01 Juni 2010

MAKALAH BASA JAWA

MAKALAH BASA JAWA
KANGGO NGGANEPI TUGAS PSG













DISUSUN OLEH:
EKO KRISTANTO
XI AK1


SMK GAJAH MADA 01 MARGOYOSO PATI
2009/2010
BAB I
MACAPAT

Macapat iku tembang tradhisional ing tanah Jawa. Tembang macapat mawa jeneng liya uga bisa ditemokaké ing kabudayan Bali, Madura, lan Sundha. Saliyané iku macapat uga tau dienggo ing Palémbang lan Banjarmasin. Macapat kerep dijarwakaké minangka maca papat-papat awit carané maca pancèn rinakit saben patang wanda (suku kata). Tembang iki kira-kira lagi ana ing pungkasaning jaman Majapahit lan wiwitan Walisanga nyekel kuwasa. Nanging iku ya durung mesthi, amarga ora ana tulisan gathuk kang bisa mesthèkaké. Macapat akeh dienggo ing sapérangan Sastra Jawa Tengahan lan Sastra Jawa Anyar. Yèn disandhingaké karo kakawin, aturan-aturan ing macapat luwih gampang. Kitab-kitab jaman Mataram Anyar, kaya Serat Wédhatama, Serat Wulangrèh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, lan liya-liyané dirakit nganggo tembang iki. Aturan-aturan iku ana ing:
• Guru gatra : wilangan larik/gatra saben pada (Indonesia: bait).
• Guru wilangan : wilangan wanda (Indonesia: suku kata) saben gatra.
• Guru lagu : tibané swara wanda ing pungkasan ing saben gatra.
Déné, tembang utawa sekar sejatiné ana werna-werna. Lumrahé dipérang dadi telung jenis, yaiku: Sekar alit, sekar tengahan lan sekar ageng.
Étimologi
Macapat kerep dijarwakaké minangka maca papat-papat awit carané maca pancèn rinakit saben patang wanda.[1] Nanging iki dudu siji-sijiné makna, penafsiran liyané uga ana.[1]. Sawijining pakar Sastra Jawa, Arps ngandaraké sawetara makna liya ing bukuné Tembang in two traditions.[1]
Sajabané sing wis kasebut ing dhuwur, makna liya yakuwi tembung -pat ngarujuk marang cacahing tandha diakritis (sandhangan) jroning aksara Jawa sing relevan jroning panembangan macapat.[1]
Banjur miturut Serat Mardawalagu, sing dikarang d’ening Ranggawarsita, macapat minangka cekakan saka frasa maca-pat-lagu sing tegesé "nglgokaké nada kapapat".[1] Saliyané maca-pat-lagu, isih ana manèh maca-sa-lagu, maca-ro-lagu lan maca-tri-lagu.[1] Miturut ujaring kandha maca-sa klebu kategori paling tuwa lan diciptakaké déning para Déwa lan diturunaké marang pandita Walmiki lan ditangkaraké déning sang pujangga istana Yogiswara saka Kedhiri.[1] Nyatané iki klebu kategori sing saiki disebut kanthi jeneng tembang gedhé.[1] Maca-ro klebu tipe tembang gedhé yakuwi cacahing ‘’bait’’ (pada?) saben pupuh bisa kurang saka papat sauntara kuwi cacahing sukukata (wanda?) jroning saben bait (pada) ora mesthi padha lan diciptakaké déning Yogiswara.[1] Maca-tri utawa kategori sing katelu yakuwi tembang tengahan sing miturut ujar diciptakaké déning Resi Wiratmaka, pandhita istana Janggala lan disampurnakaké déning Pangeran Panji Inokartapati lan saduluré.[1] Wusanané, macapat utawa tembang cilik diciptakaké déning Sunan Bonang lan diturunaké marang para wali.[1]

Sajarah
Macapat minangka sebutan metrum puisi jawa tengahan lan jawa anyar, sing nganti saiki isih ditresnani masarakat, nyatané pancèn angèl dilacak sajarahé.[2] Poerbatjaraka mratélakaké yèn macapat lair bebarengan karo geguritan abasa jawa tengahan, nalika macapat wiwit dikenal, durung diweruhi sacara premana. Pigeaud nduwèni panemu yèn tembang macapat dipigunakaké ing wiwitan periode Islam. Pratélan Pigeaud sing asipat informasi kira-kira iku isih perlu diupayakaké kacocogan tauné sing mesthi. Déné Karseno Saputra ngira-ira adhedhasar analisis marang sawetara panemu lan pratélan. Yèn nyata pola metrum sing dipigunakaké ing tembang macapat padha karo pola metrum tembang tengahan lan tembang macapat tuwuh ngrembaka sairing karo tembang tengahan, mula banjur dikira-kira yèn tembang macapat wis ana ing kalangan masarakat saora-orané taun 1541 masèhi. Pangira-ira iki adhedhasar angka taun sing ana ing kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J utawa 1541 masèhi. ( Saputra, 1992 : 14 ) Bab iki adhedhasar pola metrum macapat sing paling wiwitan sing ana ing kidung Subrata. Watara taun iku tueuh geguritan abasa jawa kuno, jawa tengahan lan jawa anyar yaiku kekawin, kidung lan macapat. Taun pangira-ira kuwi cocog uga karo panemuné Zoetmulder luwih kurang ing abad XVI ing jawa urip bebarengan telu basa, yaiku jawa kuno, jawa tengahan lan jawa anyar. Jroning Mbombong manah I ( Tejdohadi Sumarto, 1958 : 5 ) disebutaké yèn tembang macapat ( sing nyakup 11 metrum ) diciptakaké déning Prabu Dewawasesa utawa Prabu Banjaransari saka Sigaluh ing taun Jawa 1191 utawa taun Masèhi 1279. Ananging miturut sumber liya, macapat ora mung diciptakaké déning sawiji uwong, nanging déning sawetara wali lan bangsawan. ( Laginem, 1996 : 27 ). Para pancipta iku yakuwi Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Murya, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra lan Adipati Nata Praja. Nanging miturut kajian ilmiah ana loro panemu sing nduwèni prabédan ngenani lairé macapat. Panemu sepisan mratélakaké yèn tembang macapat iku luwih tuwa tinimbang tembang gedhé lan panemu kaloro suwaliké. Kajaba panemu iku isih ana panemu liya ngenani lairé macapat adhedahsar perkembangan basa.
A). Tembang macapat luwih tuwa tinimbang tembang gedhé Panemu pisanan nganggep yèn tembang macapat luwih tuwa tinimbang tembang gedhé tanpa wretta utawa tembang gedhé kawi miring. Tembang macapat timbul ing zaman Majapahit pungkasan nalika pengaruh kabudayan Islam wiwit surut ( Danusuprapta, 1981 : 153-154 ). Diandaraké déning Purbatjaraka yèn lairé macapat bebarengan karo kidung, kanthi anggepan yèn tembang tengahan ora ana. ( Poerbatjaraka, 1952 : 72 )
B). Tembang macapat luwih anom tinimbang tembang gedhé Panemu kaloro nganggep yèn tembang macapat lair ing wektu pengaruh kabudayan Hindu tansaya tipis lan rasa kabangsan wiwit tuwuh, yaiku ing zaman Majapahit pungkasan. Lairé macapat urut-urutan karo kidung banjur muncul tembang gedhé abasa jawa pertengahan, sabanjuré muncul macapat abasa jawa anyar. Lan ing zaman Surakarta wiwitan muncul tembang gedhé kawi miring. Wangun gubahan abasa jawa anyar sing akèh disenengi yaiku kidung lan macapat. Prosès pamunculané wiwit nalika lair karya-karya abasa jawa pertengahan sing biasa disebut kitab-kitab kidung, banjur muncul karya-karya abasa jawa anyar arupa kitab-kitab suluk lan kitab-kitab niti. Kitab suluk lan kitab niti iku mènèhi sumbangan sing gedhé marang perkembangan macapat.
C). Tembang macapat adhedhasar perkembangan basa Jroning hipotesis Zoetmulder ( 1983 : 35 ) disebutaké yèn sacara linguistik basa jawa pertengahan dudu arupa pangkal basa jawa anyar, nanging arupa rong cawang singkapisah lan divergen ing basa jawa kuna. Basa jawa kuna minangka basa umum sajroning periode Hindu – Jawa nganti runtuhé Majapahit. Wiwit tekané pengaruh Islam, basa jawa kuna tuwuh miturut rong arah sing béda siji lan sijiné lan nuwuhaké basa jawa pertengahan lan basa jawa anyar. Sabanjuré, basa jawa pertengahan lan kidungé berkembang ing Bali lan basa jawa anyar kanthi macapat-é tueuh ing Jawa. Malah nganti saiki tradisi panulisan karya sastra jawa kuna lan pertengahan isih ana ing Bali.
Sekar Macapat utawa Sekar Alit
Macapat iki uga sinebut tembang macapat asli, kang umumé dienggo sumrambah ing ngendi-ngendi. Urut-urutané tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka mulai bayi abang nganti tumekaning pati. Mungguh kaya mangkéné urut-urutané tembang kaya kang ing ngisor iki:
• Maskumambang: Gambaraké jabang bayi sing isih ono kandhutané ibuné, sing durung kawruhan lanang utawa wadon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadon, kumambang ateges uripé ngambang nyang kandhutané ibuné.
• Mijil: Ateges wis lair lan wis cetha priya utawa wanita.
• Sinom: Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling wigati kanggoné wong anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akèh-akèhé.
• Kinanthi: Saka tembung kanthi utawa nuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.
• Asmarandana: Ateges rasa tresna, tresna marang liyan (priya lan wanita lan kosok baliné) kang kabèh mau wis dadi kodrat Ilahi.
• Gambuh: Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yèn wis jumbuh / sarujuk banjur digathukaké antarane priya lan wanita sing padha nduwèni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.
• Dhandhanggula: Nggambaraké uripé wong kang lagi seneng-senengé, apa kang digayuh bisa kasembadan. Kelakon duwé sisihan / bojo, duwé anak, urip cukup kanggo sak kulawarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.
• Durma: Saka tembung darma / wèwèh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripé, banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyané kang lagi nandang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepéngin darma / wèwèh marang sapadha - padha. Kabèh mau disengkuyung uga saka piwulangé agama lan watak sosialé manungsa.
• Pangkur: Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin wèwèh marang sapadha - padha.
• Megatruh: Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wanciné katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.
• Pocung: Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durungé dikubur.
Sekar Madya utawa Sekar Tengahan
Macapat jenis iki kayadéné tembang Kidung kang asring dienggo rikala jaman Majapahit.
• Jurudemung
• Wirangrong
• Balabak

Sekar Ageng
Sekar macapat Ageng (gedhé) mung ana siji, yaiku Girisa. Yen dideleng seka angèlé, sekar macapat ageng kaya tembang Kakawin ing jaman kuna.
Tabel Sekar
Supaya luwih gampang mbédakaké siji lan sijiné guru gatra, guru wilangan lan guru lagu saka tembang-tembang mau, bisa ditata jroning tabel kaya ing ngisor iki:
Sekar Macapat
Sekar Macapat Guru gatra Guru wilangan Guru lagu
Mijil 6 10, 6, 10, 10, 6, 6 i, o, e, i, i ,u
Sinom 9 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 a, i, a, i, i, u ,a ,i, a
Dhandhanggula 10 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 i, a, e, u, i, a, u ,a ,i, a
Kinanthi 6 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 u, i, a, i, a, i
Asmarandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a
Durma 7 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7, a, i, a, a, i, a, i
Pangkur 7 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8, a, i, u, a, u, a, i
Maskumambang 4 12, 6, 8, 8 i, a, i, a, a
Pucung 4 12, 6, 8, 12 u, a, i, a
Jurudhemung 7 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, u, u, a, u, a, u
Wirangrong 6 8, 8, 10, 6, 7, 8 i, o, u, i, a, a
Balabak 6 12, 3, 12, 3, 12, 3 a, e, a, e, u, e
Gambuh 5 7, 10, 12, 8, 8 u, u, i, u, o
Megatruh 4 12, 8, 8, 8, u, i, u, i, o
Girisa 8 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, a, a, a, a, a, a, a, a

Tuladha
Sinom
• Pangéran kang sipat murah (8/a)
• Njurungi kajating dasih (8/i)
• Ingkang temen tinemenan (8/a)
• Pan iku ujaring dalil (8/i)
• Nyatané ana ugi (7/i)
• Iya Kiyageng ing Tarub (8/u)
• Wiwitané nenedha (7/a)
• Tan pedhot tumekèng siwi (8/i)
• Wayah buyut canggah warèngé kang tampa (12/a)

Dhandhanggula
• Éling-éling pra kadang dèn éling (10/i)
• Uripira ing ndonya tan lama (10/a)
• Bebasan mung mampir ngombé (8/e)
• Cinecep nulya wangsul (7/u)
• Mring asalé sangkané nguni (9/i)
• Begja kang wus pana (7/a)
• Sangkan paranipun (6/u)
• Dedalan kang dèn ambah (8/a)
• Mrih rahayu lumampah margi utami (12/i)
• Sejatining kasidan (7/a)
Kinanthi
• Padha gulangen ing kalbu (8/u)
• Ing sasmita amrih lantip (8/i)
• Aja pijer mangan néndra (8/a)
• Kaprawiran dèn kaèsthi (8/i)
• Pesunen sariranira (8/a)
• Sudanen dhahar lan guling (8/i)

Asmarandana
• Anjasmara ari mami (8/a)
• Masmirah kulaka warta (8/a)
• Anèng kuta Prabalingga (8/o)
• Prang tanding lan Wurubisma (8/a)
• Kariya slamet wong ayu (8/u)
• Pun kakang pamit palastra (8/a)
Megatruh
• Sigra milir sang gèthèk sinanggga bajul (12/u)
• Kawan dasa kang njagèni (8/i)
• Ing ngajeng miwah ing pungkur (8/u)
• Sinangga ing kanan kèring (8/i)
• Sang gèthèk lampahnya alon (8/o)

Wirangrong
• Tan pantes akèh ngawruhi (8.i)
• Mulané lamun miraos (8/o)
• Dipun ngarah-arah ywa kabanjur (10/u)
• Yèn uwis kawijil (6/i)
• Tan kena tinututan (7/a)
• Mulané dipun prayitna (8/a)
Perkembangan macapat lan mangsa keemasané
Sajarah perkembangan sastra jawa panjang dawa banget. Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka wis kasil gawé ikhtisar isi sing nyuguhaké pambabakan adhedhasar zaman pusaka-pusaka iku tinulis déning para apngriptané.[3]
Sastra Jawa Kuna
Karya sastrané yakuwi kakawin Ramayana, kakawin Bharata Yudha. Sastra Jawa Pertengahan
Miturut panemu para ahli sastra lan sastra jawa, bates wektu sing dipatrapaké tumrap sastra jawa kuna diwiwiti jawa purba nganti waara taun 1400. Kanggo sastra jawa pertengahan, wiwit taun 1400-1700, déné sakwisé taun kasebut nganti saiki diarani sastra jawa anyar. Karya sastrané yaiku, Tantu pangelaran lan Kidung Sundayana.
Sastra Jawa Zaman Islam
Jroning lembaran sastra jawa zaman Islam, ana telu pusaka sing judhulé migunakaké tembung Niti, sing maknané tuntunan. Yaiku Nitisewaka, Nitisruti lan Nitipraja. Katelu pusaka iku nadané padha, yakuwi isi tuntutan. Nitisewaka dianggit ing zaman pamaréntahan Sinuwun Mangkurat II ing Kartasura,déné Nitipraja digawé ing zaman pamaréntahan Sultan Agung ing Mataram. Nitisruti ditulis déning Pangeran Karang Gayam, yaiku sawijining pujangga krajan Pajang sing manggon ing Karang Gayam. Asma sakbeneré yakuwi Pangeran Tumenggung Sujonopuro, sing miturut silsilah isih gantung siwuré R. Ng. Ranggawarsita.
Sairing karo sumebaré ajaran Islam, sacara ora langsung, pengaruh kabudayan Islam agawé owah-owahan ing wangun puisi jawa. Saka kakawin sing mawa metrum India dadi kidung sing mawa metrum Jawa. Kalungguhan kakawin sing sadurungé minangka puisi resmi digantèkaké déning kidung. Nalika iku kidung dimanfaataké déning para intelektual Islam kanggo nyebaraké ajaran Islam ing pesisir lor ( Giri, Surabaya, Demak). Nanging, suwéning suwé kauripan kidung gèsèr uga saka Jawa menyang Bali, lan kalungguhané digantèkaké déning macapat kanthi gaya pesisiran lan muncul istilah macapat pesisiran.
Sawisé pusat panyebaran agama Islam pindhah saka tlatah pesisir menyang pedalaman, yakuwi Mataram, kabudayan jawa ngalami pembangunan. Ing zaman Sultan Agung ana restrukturisasi kabudayan jawa. Kabudayan Jawa dikristalisasi lan dimantebaké, umpamané macapat dilestarèkaké lan dibakokaké strukturé, nanging uga dimodernaké, umpamané, kanthi pangowahan Kalèndher Jawa minangka asil rekayasa perpaduan taun Saka lan taun Hijriyah.
Sastra jawa zaman Surakarta wiwitan
Zaman krajan Surakarta wiwitan, sastra Jawa ngalami zaman keagungan. Akèh banget asil sastra sing diciptakaké lan isiné uga manéka warna. Bab iki tuwuh saka pengayoman para raja sing pinuju mengku praja lan wektu semana Basa Jawa dipigunakaké minangka basa dinas pamaréntahan. Saliyané kuwi, para raja lan para satria punggawané mèlu nggubah pustaka. Bab iki minangka stimulan tumrap para peminat lan sutresna budaya padha nyonto. Sri Susuhunan Pakubuwana III, Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Sri Susuhunan Pakubuwana V, KGPAA. Mangkunegara IV, R. Ng. Sindu Sastra, KPA. Kusumadilaga lan liyané,minangka tokoh-tokoh pamaréntahan pinunjul lan mèlu ndhukung ngembangaké kasusatran Jawa saliyané para pujangga sing diwisuda. Sauntara sing bener-bener anggawa sastra jawa mlebu ing abad keemasan ing zaman kasebut yakuwi R. Ng. Yasadipura I, pujangga pisanan kraton Kasunanan Surakarta Adiningrat. R. Ng. Yasadipura II utawa R. T. Sastranegara minangka pujangga Kasunanan sing kaloro.
Pesen jroning Macapat
Ing sajroning tembang macapat kakandhut angkah awujud pesen. I Made Purna mratélakaké yèn : “ manéka makna lan swasana sing dikandhut ing sajroning tembang macapat kanggo ngandaraké pesen utawa amanat. Kandhutan peswn sing kasusun jroning wangun tetalèn tembung mawa kaidah utawa pathokan sing baku “ Miturut Teeuw sing dikutip déning Laginem, miturut konsèp semiotik, karya sastra dianggep minangka otonom lan komunikatif. Komunikatif nduwèni makna yèn karya sastra diwadhahi jroning model komunikasi. Jroning model komunikasi ana unsur komunikator (penyampai), ‘’message’’ (pesan), komunikan (penerima). Komponen-komponen iku kanthi fungsiné dhéwé-dhéwé bisa dianggo njlèntrèhaké manéka konsèp jroning macapat. Minangka sawijining pesen, macapat nduwèni ciri lan makna miturut angkah sing dikarepaké. Conto:
1. Serat Wulangrèh Isi serat iki luwih ditujokaké marang para pemuda. Ing sajeroné ana pesen ngenani kawaskithan, kapekaan marang tandha-tandha, kajujuran lan kasabaran, rasa urmat lan sapanunggalané.
2.Serat Tripama Isi pesen serat iki diandaraké liwat perlambang utawa penampilan tokoh pewayangan minangka tuladha utawa simbul. Ana telu tokoh sing dadi conto yaiku Bambang Sumantri utawa Patih Suwanda saka epos Arjuna Sastrabahu, Kumbakarna saka epos Ramayana lan Adipati Karna utawa Basukarna saka epos Mahabarata. Miturut katelu tuladha kasebut, isi pesené arupa tuladha sipat ksatria sing pantes dianut.
3.Wirawiyata Isi pesen iki ditujokaké marang prajurit amarga nyangkut masalah ajaran keprajuritan. Bab sing kakandhut arupa janji prajurit, disiplin, kataatan, katakwaan, ora anngak lan ora sawenang-wenang.
4.Serat Panitisastra Pokok-pokok ajaran utawa pesen sing ana jroning karya iku arupa adat istiadat, sopan santun, nilai karta lan derma, tenggang rasa, pendhidhikan anak minangka pendhukung nilai sosial wong tuwa lan sanak sedulur, kawruh kanggo ngandelaké katakwaan marang Gusti kang murbèng dumadi.
5.Wulang Estri Isi pesen jroning serat iki ditujokaké marag para wanita sing bakal nglakoni urip bebrayan. Supaya kauripan rumah tanggané apik, sejahtera lair batin, isterikudu mangertèni aturan rumah tangga, ngerti watak utawa sipat bojo, teliti, lan ora olèh ndhisiki kekarepané bojo. Ajaran iki disimbulaké kanthi paraga Dewi Adaniggar saka Cina, Putri Raja Ternate, Dewi Citrawati lan lima driji tangan. Simbol-simbol iku mènèhi gambaran ngenani kegagalan kegagalan lan keberhasilan omah-omah.
6.Candra Rini Isi pesen jroning serat iki arupa ajaran moral tumrap kaum wanita jroning urip omah-omah. Konsep ajaran sing awangun deskripsi sifat, watak, prilaku istri Arjuna supaya dadi conto lan dituladhani déning kaum wanita. Istri Arjuna sing djadi perlambang yakuwi Sumbadra, Manuhara, Ulupi, Gandawati, Srikandi, Manikarja, Maeswara, Rarasati lan Sulastri.
7.Serat Dumbasawala Serat Dumbasawala isi ajaran utawa pesen sing dikarepaké dadi tuladha déning warga kraton Surakarta wektu semana. Isi pesen iku utamané ing babagan kepahlawanan (kaprajuritan), Etika ( tingkah laku ), religiusitas (ketuhanan ) lan sosial.






















BAB II
GEGURITAN



Penganten Anyar

bujang prawan janji nglamar
urip bareng kulawargan
gethok dina niat besan
nyebar uleman maring kadang
gawe jenang masang tratag
janur kuning depasang ngarep lawang
spiker nggenthoar calung campur sari kanggo hiburan
aweh ngerti khajatan wis demimiti
wong kondangan nyangking tromol ndilir nuli
para sinoman peladen sandhangane seragam rapi
nyambut tamu kakung putri
nyunggi baki isi pacitan jenang wajik apadene utri
meja njacrah nderet toples isi roti
sohibul khajat bungah ati
mesem guyu karo nyobati
mangga sami dedhahari
sobatan kangge panjenengan sami
besan teka gawa jodang isi panganan
bakal penganten dandane mloes pisan
sing wadon lambene menter-menter
sing lanang maras deg-degan raine menger-menger
pengulu teka penganten ngijab
rampung ngijab terus jejer
tumpeng ingkung neng meja ander
swasana bungah rame-rame
deselingi campur sari lewih maen
tuku suweng maring pasar
pasar klewer ana undar
paling seneng penganten anyar
bubar jejer udar-udar
penganten sekalian mesem guyu
semu isin kambi para tamu
lingsir wektu adicara jejer penganten rampung
para tamu sami kondur
gari para ladhen keduman beres-beres
sing duwe khajat mlebu senthong
sumbangan numpuk segebong
atine monggok rasane plong
bojo laki cengar cengir dikut beresi
decarik-carik ndarik-ndarik
benang lawe semune mulur
pethilane degawe kasur
baranggawe tamune elur
bubarane akeh sedulur
jingkat jingkut pengantene mlebu senthong
mambu wangi kembang mlathi
rasa kesel wis deliwati
atine deg-degan arep dewiwiti sing endi
jagong amben delang deleng ting pentheleng
sing lanang manthuk sing wadon dingkluk
ngemek bathuk keliru kupluk
bareng nylinguk sing wadon kesikut
dengak maning murug tengkuk
ati medhedheg arep kesuh
bareng tangane decekel mlirik rikuh
pipine desun rasane alah mbuh….
lampu listrik degeyang geyong
aja brisik mbok ana wong
lampu listrik deuthak athik
ngesun sethithik krasane asik
siki wis rinaket tali nikah
janji sekeloron pati urip dadi sumpah
penganten anyar babar tresna
buktekna agine gendhakan
kepenginane sepirang-pirang
gayuh umah tangga sing kepenak
sakinah mawadah wa rohmah
urip mulya ketrima gusti allah
ora srakah sing penting brekah
buang runtah godhonge dhamar
damar loro kayune mubah
angi bungah penganten anyar
bukak kadho isine grabah
swasana umah rampung khajatan
sing rewang umbah-umbah grabah
sinoman rampung kari resik-resik panggung
barang silihan debalekna kabeh
besan kondur nyangking brekat
bapa biyung bungah due mantu anyar
jangan beweh debuntel klaras
kanggo lawuh madan enak
baranggawe olih akeh beras
olih mantu tambah anak








ILIR-ILIR

Kabeh manungsa kabeh janma kang urip mesthi tekan papan kuwi
ora ngerti rama ora ngerti biyung ora ngerti anak-bojo
ora ngerti putu ora ngerti embah ora ngerti sedulur
ora ngerti awake dhewe kabeh sarwa putih
samar kumleyang
“pesthi Gusti”

Purworejo, Mei 1993


PESAKITAN

Urip kang abot
ngene kleru, ngono luput
ngetan ora bener
ngulon ora gathuk
meneng salah, obah ora kena
dikungkung
dipingit dipasung dikunjara dirante dibanda dirut
diidak dikurung dilebur dijur-jur diobrak-abrik diosak-asik
dijuwing-juwing angen-angene pepenginane
gegayuhane kamardikane !

Purworejo, Mei 1993

MAMRING

Sepi mamring sepah sumpeg
Peteng kesel ah embuh ora weruh
ora ngerti bisu
nangis sajroning ngguyu
ngguyu sajroning nangis
mlaku sajroning mandheg
mandheg sajroning mlaku

Purworejo, Mei 1993

BAB III
WAYANG


BATARA GURU
Batara Guru merupakan Dewa yang merajai kahyangan. Dia yang mengatur wahyu kepada para wayang, hadiah, dan ilmu-ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) Dewi Uma, dan mempunyai beberapa anak. Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):
1. Batara Sambu
2. Batara Brahma
3. Batara Indra
4. Batara Bayu
5. Batara Wisnu
6. Batara Ganesha
7. Batara Kala
8. Hanoman
Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Hyang Tunggal. Diciptakannya bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal kemudian diputuskan kalau Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa. Adapun saat Batara Guru diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Oleh Hyang Tunggal diketahuinya perasaan Manikmaya itu, lalu Hyang Tunggal bersabda kalau Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal itu, dan sabdanya itu betul-betul terjadi. Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu, yang ternyata airnya beracun, lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Saat lahirnya Nabi Isa, Manikmaya juga datang untuk menyaksikan. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya. Hal ini adalah salah satu upaya deHinduisasi wayang dari budaya jawa yang dilakukan walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran islam di jawa. Contoh lain adalah penyebutan drona menjadi durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga dan lain-lain. Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan, ke arah manusia. Hal ini apat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini.
Dalam Versi Jawa Asa-asul Tangan Empat dari Bathara Guru adalah saat bertemu dengan Bathara Narada, berikut ceritanya : Sang Hyang Narada utawa Bathara Narada iku putrane Sang Hyang Caturkanwaka lan Dewi Laksmi. Karana iku Narada uga sinebut Hyang Kanwakaputra utawa Sang Hyang Kanekaputra.
Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa weton Balai Pustaka, ing jagad pedhalangan Bathara Narada asale saka Kayangan Siddi Udhaludhal. Dheweke duwe sedulur telu yaiku Sang Hyang Pritanjala, Dewi Tiksnawati lan Sang Hyang Caturwarna.
Bathara Narada duwe sisihan aran Dewi Wiyodi. Ing palakramane kalawan Dewi Wiyodi iku, Narada peputra Dewi Kanekawati kang sabanjure kapasrahake marang Resi Seta putrane Prabu Matswapati, raja ing nagara Wirata. Saliyane Dewi Kanekawati, Narada uga peputra Bathara Malangdewa.
Bathara Narada iku disuyudi dening sapa wae kang srawung kalawan dheweke. Iku amarga Narada iku watake grapyak semanak. Narada uga kondhang alim, pinter ing maneka warna ilmu, jujur, atine resik, pikirane lantip, seneng gegojegan, prigel olah kaprajuritan ananging uga temen-temen mandhita saengga antuk jejuluk resi. Saliyane iku praupane Narada uga bagus.
Ing sawijining wektu nalika Narada mbangun tapa ing sandhuwure banyu samodra, tangane nggegem sawijining cupu aran Linggamanik. Nalika iku Narada mertapa kanthi pangajab antuk kasekten lan kawibawan kang luwih.
Patrape Narada iku kaweruhan dening Sang Hyang Manikmaya kang sabanjure tumeka ing papan mertapane Narada. Sawise sapatemon, kalorone banjur andon wasis maneka ilmu, ananging Sanghyang Manikmaya ora bisa ngasorake. Kalorone banjur prang tandhing adu kekuwatan lan kasekten.
Wusanane Sanghyang Kanekaputra bisa diasorake dening Manikmaya kanthi sarana aji Kemayam saengga Kanekaputra malih rupa dadi cendhek awake lan ala praupane Wiwit kedadeyan iku Sang Hyang Kanekaputra antuk sesebutan Narada. Sabanjure sinengkakake minangka tuwangga utawa patih ing Suralaya.
Kabeh Dewa lan Dewaputra suyud lan manut marang Narada karana kalantipan lan kapinterane. Malah Sang Hyang Manikmaya dhewe tansah antuk pituduh lan pamrayoga saka Narada. Tanpa Narada ing Suralaya, Ngarcapada bakal tansah kisruh.
Kacihna akeh prekara kanggo ngatur Tribuwana lan racake uga angel ngudhari maneka prekara iku, Bathara Narada tansah seneng atine ngadhepi maneka prekara iku lan tansah kasil antuk dalan kanggo ngrampungi. Narada tansah bisa ngrampungi maneka prekara kanthi pratitis.
Dening Batara Guru, Narada asring sinebut ”kakang”. Mula bukane nalika andon wasis maneka rupa ngelmu, Bathara Guru tansah kalah saengga nuwuhake rasa nesu marang Narada lan banjur nyepatani Narada.
Ananging karana Narada duwe ngelmu kang luwih dhuwur, dheweke banjur sinengkakake minangka tuwangga utawa patih ing Suralaya lan dianggep luwih tuwa. Wiwit iku Sang Hyang Manikmaya utawa Bathara Guru tansah nyeluk Narada kanthi sesebutan ”Kakang Narada”.
Ing crita liyane, nalika Bathara Narada sapatemon kalawan Bathara Guru, Narada diece dening Bathara Guru kanthi ukara yen Bathara Narada iku tangane papat. Nalika mertapa ing sandhuwure banyu samodra iku, Narada nganggo klambi ananging tangane sing loro ora dilebokake ing lengene klambi, saengga katon kaya-laya tangane papat. Saka pangecene Bathara Guru marang Narada iku malah Bathara Guru dhewe kang kena sepata, saengga tangane dadi papat.
Batara Guru adalah nama lain Siwa.
Selain dikenal dalam kisah wayang, nama Batara Guru juga dikenal dalam mitologi Batak sebagai dewa yang tinggal di Banua Ginjang.

Minggu, 30 Mei 2010

macapat

Macapat iku tembang tradhisional ing tanah Jawa. Tembang macapat mawa jeneng liya uga bisa ditemokaké ing kabudayan Bali, Madura, lan Sundha. Saliyané iku macapat uga tau dienggo ing Palémbang lan Banjarmasin. Macapat kerep dijarwakaké minangka maca papat-papat awit carané maca pancèn rinakit saben patang wanda (suku kata). Tembang iki kira-kira lagi ana ing pungkasaning jaman Majapahit lan wiwitan Walisanga nyekel kuwasa. Nanging iku ya durung mesthi, amarga ora ana tulisan gathuk kang bisa mesthèkaké. Macapat akeh dienggo ing sapérangan Sastra Jawa Tengahan lan Sastra Jawa Anyar. Yèn disandhingaké karo kakawin, aturan-aturan ing macapat luwih gampang. Kitab-kitab jaman Mataram Anyar, kaya Serat Wédhatama, Serat Wulangrèh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, lan liya-liyané dirakit nganggo tembang iki. Aturan-aturan iku ana ing:
• Guru gatra : wilangan larik/gatra saben pada (Indonesia: bait).
• Guru wilangan : wilangan wanda (Indonesia: suku kata) saben gatra.
• Guru lagu : tibané swara wanda ing pungkasan ing saben gatra.
Déné, tembang utawa sekar sejatiné ana werna-werna. Lumrahé dipérang dadi telung jenis, yaiku: Sekar alit, sekar tengahan lan sekar ageng.
Étimologi
Macapat kerep dijarwakaké minangka maca papat-papat awit carané maca pancèn rinakit saben patang wanda.[1] Nanging iki dudu siji-sijiné makna, penafsiran liyané uga ana.[1]. Sawijining pakar Sastra Jawa, Arps ngandaraké sawetara makna liya ing bukuné Tembang in two traditions.[1]
Sajabané sing wis kasebut ing dhuwur, makna liya yakuwi tembung -pat ngarujuk marang cacahing tandha diakritis (sandhangan) jroning aksara Jawa sing relevan jroning panembangan macapat.[1]
Banjur miturut Serat Mardawalagu, sing dikarang d’ening Ranggawarsita, macapat minangka cekakan saka frasa maca-pat-lagu sing tegesé "nglgokaké nada kapapat".[1] Saliyané maca-pat-lagu, isih ana manèh maca-sa-lagu, maca-ro-lagu lan maca-tri-lagu.[1] Miturut ujaring kandha maca-sa klebu kategori paling tuwa lan diciptakaké déning para Déwa lan diturunaké marang pandita Walmiki lan ditangkaraké déning sang pujangga istana Yogiswara saka Kedhiri.[1] Nyatané iki klebu kategori sing saiki disebut kanthi jeneng tembang gedhé.[1] Maca-ro klebu tipe tembang gedhé yakuwi cacahing ‘’bait’’ (pada?) saben pupuh bisa kurang saka papat sauntara kuwi cacahing sukukata (wanda?) jroning saben bait (pada) ora mesthi padha lan diciptakaké déning Yogiswara.[1] Maca-tri utawa kategori sing katelu yakuwi tembang tengahan sing miturut ujar diciptakaké déning Resi Wiratmaka, pandhita istana Janggala lan disampurnakaké déning Pangeran Panji Inokartapati lan saduluré.[1] Wusanané, macapat utawa tembang cilik diciptakaké déning Sunan Bonang lan diturunaké marang para wali.[1]

Sajarah
Macapat minangka sebutan metrum puisi jawa tengahan lan jawa anyar, sing nganti saiki isih ditresnani masarakat, nyatané pancèn angèl dilacak sajarahé.[2] Poerbatjaraka mratélakaké yèn macapat lair bebarengan karo geguritan abasa jawa tengahan, nalika macapat wiwit dikenal, durung diweruhi sacara premana. Pigeaud nduwèni panemu yèn tembang macapat dipigunakaké ing wiwitan periode Islam. Pratélan Pigeaud sing asipat informasi kira-kira iku isih perlu diupayakaké kacocogan tauné sing mesthi. Déné Karseno Saputra ngira-ira adhedhasar analisis marang sawetara panemu lan pratélan. Yèn nyata pola metrum sing dipigunakaké ing tembang macapat padha karo pola metrum tembang tengahan lan tembang macapat tuwuh ngrembaka sairing karo tembang tengahan, mula banjur dikira-kira yèn tembang macapat wis ana ing kalangan masarakat saora-orané taun 1541 masèhi. Pangira-ira iki adhedhasar angka taun sing ana ing kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J utawa 1541 masèhi. ( Saputra, 1992 : 14 ) Bab iki adhedhasar pola metrum macapat sing paling wiwitan sing ana ing kidung Subrata. Watara taun iku tueuh geguritan abasa jawa kuno, jawa tengahan lan jawa anyar yaiku kekawin, kidung lan macapat. Taun pangira-ira kuwi cocog uga karo panemuné Zoetmulder luwih kurang ing abad XVI ing jawa urip bebarengan telu basa, yaiku jawa kuno, jawa tengahan lan jawa anyar. Jroning Mbombong manah I ( Tejdohadi Sumarto, 1958 : 5 ) disebutaké yèn tembang macapat ( sing nyakup 11 metrum ) diciptakaké déning Prabu Dewawasesa utawa Prabu Banjaransari saka Sigaluh ing taun Jawa 1191 utawa taun Masèhi 1279. Ananging miturut sumber liya, macapat ora mung diciptakaké déning sawiji uwong, nanging déning sawetara wali lan bangsawan. ( Laginem, 1996 : 27 ). Para pancipta iku yakuwi Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Murya, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra lan Adipati Nata Praja. Nanging miturut kajian ilmiah ana loro panemu sing nduwèni prabédan ngenani lairé macapat. Panemu sepisan mratélakaké yèn tembang macapat iku luwih tuwa tinimbang tembang gedhé lan panemu kaloro suwaliké. Kajaba panemu iku isih ana panemu liya ngenani lairé macapat adhedahsar perkembangan basa.
A). Tembang macapat luwih tuwa tinimbang tembang gedhé Panemu pisanan nganggep yèn tembang macapat luwih tuwa tinimbang tembang gedhé tanpa wretta utawa tembang gedhé kawi miring. Tembang macapat timbul ing zaman Majapahit pungkasan nalika pengaruh kabudayan Islam wiwit surut ( Danusuprapta, 1981 : 153-154 ). Diandaraké déning Purbatjaraka yèn lairé macapat bebarengan karo kidung, kanthi anggepan yèn tembang tengahan ora ana. ( Poerbatjaraka, 1952 : 72 )
B). Tembang macapat luwih anom tinimbang tembang gedhé Panemu kaloro nganggep yèn tembang macapat lair ing wektu pengaruh kabudayan Hindu tansaya tipis lan rasa kabangsan wiwit tuwuh, yaiku ing zaman Majapahit pungkasan. Lairé macapat urut-urutan karo kidung banjur muncul tembang gedhé abasa jawa pertengahan, sabanjuré muncul macapat abasa jawa anyar. Lan ing zaman Surakarta wiwitan muncul tembang gedhé kawi miring. Wangun gubahan abasa jawa anyar sing akèh disenengi yaiku kidung lan macapat. Prosès pamunculané wiwit nalika lair karya-karya abasa jawa pertengahan sing biasa disebut kitab-kitab kidung, banjur muncul karya-karya abasa jawa anyar arupa kitab-kitab suluk lan kitab-kitab niti. Kitab suluk lan kitab niti iku mènèhi sumbangan sing gedhé marang perkembangan macapat.
C). Tembang macapat adhedhasar perkembangan basa Jroning hipotesis Zoetmulder ( 1983 : 35 ) disebutaké yèn sacara linguistik basa jawa pertengahan dudu arupa pangkal basa jawa anyar, nanging arupa rong cawang singkapisah lan divergen ing basa jawa kuna. Basa jawa kuna minangka basa umum sajroning periode Hindu – Jawa nganti runtuhé Majapahit. Wiwit tekané pengaruh Islam, basa jawa kuna tuwuh miturut rong arah sing béda siji lan sijiné lan nuwuhaké basa jawa pertengahan lan basa jawa anyar. Sabanjuré, basa jawa pertengahan lan kidungé berkembang ing Bali lan basa jawa anyar kanthi macapat-é tueuh ing Jawa. Malah nganti saiki tradisi panulisan karya sastra jawa kuna lan pertengahan isih ana ing Bali.
Sekar Macapat utawa Sekar Alit
Macapat iki uga sinebut tembang macapat asli, kang umumé dienggo sumrambah ing ngendi-ngendi. Urut-urutané tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka mulai bayi abang nganti tumekaning pati. Mungguh kaya mangkéné urut-urutané tembang kaya kang ing ngisor iki:
• Maskumambang: Gambaraké jabang bayi sing isih ono kandhutané ibuné, sing durung kawruhan lanang utawa wadon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadon, kumambang ateges uripé ngambang nyang kandhutané ibuné.
• Mijil: Ateges wis lair lan wis cetha priya utawa wanita.
• Sinom: Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling wigati kanggoné wong anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akèh-akèhé.
• Kinanthi: Saka tembung kanthi utawa nuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.
• Asmarandana: Ateges rasa tresna, tresna marang liyan (priya lan wanita lan kosok baliné) kang kabèh mau wis dadi kodrat Ilahi.
• Gambuh: Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yèn wis jumbuh / sarujuk banjur digathukaké antarane priya lan wanita sing padha nduwèni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.
• Dhandhanggula: Nggambaraké uripé wong kang lagi seneng-senengé, apa kang digayuh bisa kasembadan. Kelakon duwé sisihan / bojo, duwé anak, urip cukup kanggo sak kulawarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.
• Durma: Saka tembung darma / wèwèh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripé, banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyané kang lagi nandang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepéngin darma / wèwèh marang sapadha - padha. Kabèh mau disengkuyung uga saka piwulangé agama lan watak sosialé manungsa.
• Pangkur: Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin wèwèh marang sapadha - padha.
• Megatruh: Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wanciné katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.
• Pocung: Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durungé dikubur.
Sekar Madya utawa Sekar Tengahan
Macapat jenis iki kayadéné tembang Kidung kang asring dienggo rikala jaman Majapahit.
• Jurudemung
• Wirangrong
• Balabak

Sekar Ageng
Sekar macapat Ageng (gedhé) mung ana siji, yaiku Girisa. Yen dideleng seka angèlé, sekar macapat ageng kaya tembang Kakawin ing jaman kuna.
Tabel Sekar
Supaya luwih gampang mbédakaké siji lan sijiné guru gatra, guru wilangan lan guru lagu saka tembang-tembang mau, bisa ditata jroning tabel kaya ing ngisor iki:
Sekar Macapat
Sekar Macapat Guru gatra Guru wilangan Guru lagu
Mijil 6 10, 6, 10, 10, 6, 6 i, o, e, i, i ,u
Sinom 9 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 a, i, a, i, i, u ,a ,i, a
Dhandhanggula 10 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 i, a, e, u, i, a, u ,a ,i, a
Kinanthi 6 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 u, i, a, i, a, i
Asmarandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a
Durma 7 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7, a, i, a, a, i, a, i
Pangkur 7 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8, a, i, u, a, u, a, i
Maskumambang 4 12, 6, 8, 8 i, a, i, a, a
Pucung 4 12, 6, 8, 12 u, a, i, a
Jurudhemung 7 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, u, u, a, u, a, u
Wirangrong 6 8, 8, 10, 6, 7, 8 i, o, u, i, a, a
Balabak 6 12, 3, 12, 3, 12, 3 a, e, a, e, u, e
Gambuh 5 7, 10, 12, 8, 8 u, u, i, u, o
Megatruh 4 12, 8, 8, 8, u, i, u, i, o
Girisa 8 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, a, a, a, a, a, a, a, a

Tuladha
Sinom
• Pangéran kang sipat murah (8/a)
• Njurungi kajating dasih (8/i)
• Ingkang temen tinemenan (8/a)
• Pan iku ujaring dalil (8/i)
• Nyatané ana ugi (7/i)
• Iya Kiyageng ing Tarub (8/u)
• Wiwitané nenedha (7/a)
• Tan pedhot tumekèng siwi (8/i)
• Wayah buyut canggah warèngé kang tampa (12/a)

Dhandhanggula
• Éling-éling pra kadang dèn éling (10/i)
• Uripira ing ndonya tan lama (10/a)
• Bebasan mung mampir ngombé (8/e)
• Cinecep nulya wangsul (7/u)
• Mring asalé sangkané nguni (9/i)
• Begja kang wus pana (7/a)
• Sangkan paranipun (6/u)
• Dedalan kang dèn ambah (8/a)
• Mrih rahayu lumampah margi utami (12/i)
• Sejatining kasidan (7/a)
Kinanthi
• Padha gulangen ing kalbu (8/u)
• Ing sasmita amrih lantip (8/i)
• Aja pijer mangan néndra (8/a)
• Kaprawiran dèn kaèsthi (8/i)
• Pesunen sariranira (8/a)
• Sudanen dhahar lan guling (8/i)

Asmarandana
• Anjasmara ari mami (8/a)
• Masmirah kulaka warta (8/a)
• Anèng kuta Prabalingga (8/o)
• Prang tanding lan Wurubisma (8/a)
• Kariya slamet wong ayu (8/u)
• Pun kakang pamit palastra (8/a)
Megatruh
• Sigra milir sang gèthèk sinanggga bajul (12/u)
• Kawan dasa kang njagèni (8/i)
• Ing ngajeng miwah ing pungkur (8/u)
• Sinangga ing kanan kèring (8/i)
• Sang gèthèk lampahnya alon (8/o)

Wirangrong
• Tan pantes akèh ngawruhi (8.i)
• Mulané lamun miraos (8/o)
• Dipun ngarah-arah ywa kabanjur (10/u)
• Yèn uwis kawijil (6/i)
• Tan kena tinututan (7/a)
• Mulané dipun prayitna (8/a)
Perkembangan macapat lan mangsa keemasané
Sajarah perkembangan sastra jawa panjang dawa banget. Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka wis kasil gawé ikhtisar isi sing nyuguhaké pambabakan adhedhasar zaman pusaka-pusaka iku tinulis déning para apngriptané.[3]
Sastra Jawa Kuna
Karya sastrané yakuwi kakawin Ramayana, kakawin Bharata Yudha. Sastra Jawa Pertengahan
Miturut panemu para ahli sastra lan sastra jawa, bates wektu sing dipatrapaké tumrap sastra jawa kuna diwiwiti jawa purba nganti waara taun 1400. Kanggo sastra jawa pertengahan, wiwit taun 1400-1700, déné sakwisé taun kasebut nganti saiki diarani sastra jawa anyar. Karya sastrané yaiku, Tantu pangelaran lan Kidung Sundayana.
Sastra Jawa Zaman Islam
Jroning lembaran sastra jawa zaman Islam, ana telu pusaka sing judhulé migunakaké tembung Niti, sing maknané tuntunan. Yaiku Nitisewaka, Nitisruti lan Nitipraja. Katelu pusaka iku nadané padha, yakuwi isi tuntutan. Nitisewaka dianggit ing zaman pamaréntahan Sinuwun Mangkurat II ing Kartasura,déné Nitipraja digawé ing zaman pamaréntahan Sultan Agung ing Mataram. Nitisruti ditulis déning Pangeran Karang Gayam, yaiku sawijining pujangga krajan Pajang sing manggon ing Karang Gayam. Asma sakbeneré yakuwi Pangeran Tumenggung Sujonopuro, sing miturut silsilah isih gantung siwuré R. Ng. Ranggawarsita.
Sairing karo sumebaré ajaran Islam, sacara ora langsung, pengaruh kabudayan Islam agawé owah-owahan ing wangun puisi jawa. Saka kakawin sing mawa metrum India dadi kidung sing mawa metrum Jawa. Kalungguhan kakawin sing sadurungé minangka puisi resmi digantèkaké déning kidung. Nalika iku kidung dimanfaataké déning para intelektual Islam kanggo nyebaraké ajaran Islam ing pesisir lor ( Giri, Surabaya, Demak). Nanging, suwéning suwé kauripan kidung gèsèr uga saka Jawa menyang Bali, lan kalungguhané digantèkaké déning macapat kanthi gaya pesisiran lan muncul istilah macapat pesisiran.
Sawisé pusat panyebaran agama Islam pindhah saka tlatah pesisir menyang pedalaman, yakuwi Mataram, kabudayan jawa ngalami pembangunan. Ing zaman Sultan Agung ana restrukturisasi kabudayan jawa. Kabudayan Jawa dikristalisasi lan dimantebaké, umpamané macapat dilestarèkaké lan dibakokaké strukturé, nanging uga dimodernaké, umpamané, kanthi pangowahan Kalèndher Jawa minangka asil rekayasa perpaduan taun Saka lan taun Hijriyah.
Sastra jawa zaman Surakarta wiwitan
Zaman krajan Surakarta wiwitan, sastra Jawa ngalami zaman keagungan. Akèh banget asil sastra sing diciptakaké lan isiné uga manéka warna. Bab iki tuwuh saka pengayoman para raja sing pinuju mengku praja lan wektu semana Basa Jawa dipigunakaké minangka basa dinas pamaréntahan. Saliyané kuwi, para raja lan para satria punggawané mèlu nggubah pustaka. Bab iki minangka stimulan tumrap para peminat lan sutresna budaya padha nyonto. Sri Susuhunan Pakubuwana III, Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Sri Susuhunan Pakubuwana V, KGPAA. Mangkunegara IV, R. Ng. Sindu Sastra, KPA. Kusumadilaga lan liyané,minangka tokoh-tokoh pamaréntahan pinunjul lan mèlu ndhukung ngembangaké kasusatran Jawa saliyané para pujangga sing diwisuda. Sauntara sing bener-bener anggawa sastra jawa mlebu ing abad keemasan ing zaman kasebut yakuwi R. Ng. Yasadipura I, pujangga pisanan kraton Kasunanan Surakarta Adiningrat. R. Ng. Yasadipura II utawa R. T. Sastranegara minangka pujangga Kasunanan sing kaloro.
Pesen jroning Macapat
Ing sajroning tembang macapat kakandhut angkah awujud pesen. I Made Purna mratélakaké yèn : “ manéka makna lan swasana sing dikandhut ing sajroning tembang macapat kanggo ngandaraké pesen utawa amanat. Kandhutan peswn sing kasusun jroning wangun tetalèn tembung mawa kaidah utawa pathokan sing baku “ Miturut Teeuw sing dikutip déning Laginem, miturut konsèp semiotik, karya sastra dianggep minangka otonom lan komunikatif. Komunikatif nduwèni makna yèn karya sastra diwadhahi jroning model komunikasi. Jroning model komunikasi ana unsur komunikator (penyampai), ‘’message’’ (pesan), komunikan (penerima). Komponen-komponen iku kanthi fungsiné dhéwé-dhéwé bisa dianggo njlèntrèhaké manéka konsèp jroning macapat. Minangka sawijining pesen, macapat nduwèni ciri lan makna miturut angkah sing dikarepaké. Conto:
1. Serat Wulangrèh Isi serat iki luwih ditujokaké marang para pemuda. Ing sajeroné ana pesen ngenani kawaskithan, kapekaan marang tandha-tandha, kajujuran lan kasabaran, rasa urmat lan sapanunggalané.
2.Serat Tripama Isi pesen serat iki diandaraké liwat perlambang utawa penampilan tokoh pewayangan minangka tuladha utawa simbul. Ana telu tokoh sing dadi conto yaiku Bambang Sumantri utawa Patih Suwanda saka epos Arjuna Sastrabahu, Kumbakarna saka epos Ramayana lan Adipati Karna utawa Basukarna saka epos Mahabarata. Miturut katelu tuladha kasebut, isi pesené arupa tuladha sipat ksatria sing pantes dianut.
3.Wirawiyata Isi pesen iki ditujokaké marang prajurit amarga nyangkut masalah ajaran keprajuritan. Bab sing kakandhut arupa janji prajurit, disiplin, kataatan, katakwaan, ora anngak lan ora sawenang-wenang.
4.Serat Panitisastra Pokok-pokok ajaran utawa pesen sing ana jroning karya iku arupa adat istiadat, sopan santun, nilai karta lan derma, tenggang rasa, pendhidhikan anak minangka pendhukung nilai sosial wong tuwa lan sanak sedulur, kawruh kanggo ngandelaké katakwaan marang Gusti kang murbèng dumadi.
5.Wulang Estri Isi pesen jroning serat iki ditujokaké marag para wanita sing bakal nglakoni urip bebrayan. Supaya kauripan rumah tanggané apik, sejahtera lair batin, isterikudu mangertèni aturan rumah tangga, ngerti watak utawa sipat bojo, teliti, lan ora olèh ndhisiki kekarepané bojo. Ajaran iki disimbulaké kanthi paraga Dewi Adaniggar saka Cina, Putri Raja Ternate, Dewi Citrawati lan lima driji tangan. Simbol-simbol iku mènèhi gambaran ngenani kegagalan kegagalan lan keberhasilan omah-omah.
6.Candra Rini Isi pesen jroning serat iki arupa ajaran moral tumrap kaum wanita jroning urip omah-omah. Konsep ajaran sing awangun deskripsi sifat, watak, prilaku istri Arjuna supaya dadi conto lan dituladhani déning kaum wanita. Istri Arjuna sing djadi perlambang yakuwi Sumbadra, Manuhara, Ulupi, Gandawati, Srikandi, Manikarja, Maeswara, Rarasati lan Sulastri.
7.Serat Dumbasawala Serat Dumbasawala isi ajaran utawa pesen sing dikarepaké dadi tuladha déning warga kraton Surakarta wektu semana. Isi pesen iku utamané ing babagan kepahlawanan (kaprajuritan), Etika ( tingkah laku ), religiusitas (ketuhanan ) lan sosial.

wayang



Batara Guru merupakan Dewa yang merajai kahyangan. Dia yang mengatur wahyu kepada para wayang, hadiah, dan ilmu-ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) Dewi Uma, dan mempunyai beberapa anak. Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):
1. Batara Sambu
2. Batara Brahma
3. Batara Indra
4. Batara Bayu
5. Batara Wisnu
6. Batara Ganesha
7. Batara Kala
8. Hanoman
Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Hyang Tunggal. Diciptakannya bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal kemudian diputuskan kalau Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa. Adapun saat Batara Guru diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Oleh Hyang Tunggal diketahuinya perasaan Manikmaya itu, lalu Hyang Tunggal bersabda kalau Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal itu, dan sabdanya itu betul-betul terjadi. Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu, yang ternyata airnya beracun, lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Saat lahirnya Nabi Isa, Manikmaya juga datang untuk menyaksikan. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya. Hal ini adalah salah satu upaya deHinduisasi wayang dari budaya jawa yang dilakukan walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran islam di jawa. Contoh lain adalah penyebutan drona menjadi durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga dan lain-lain. Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan, ke arah manusia. Hal ini apat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini.
Dalam Versi Jawa Asa-asul Tangan Empat dari Bathara Guru adalah saat bertemu dengan Bathara Narada, berikut ceritanya : Sang Hyang Narada utawa Bathara Narada iku putrane Sang Hyang Caturkanwaka lan Dewi Laksmi. Karana iku Narada uga sinebut Hyang Kanwakaputra utawa Sang Hyang Kanekaputra.
Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa weton Balai Pustaka, ing jagad pedhalangan Bathara Narada asale saka Kayangan Siddi Udhaludhal. Dheweke duwe sedulur telu yaiku Sang Hyang Pritanjala, Dewi Tiksnawati lan Sang Hyang Caturwarna.
Bathara Narada duwe sisihan aran Dewi Wiyodi. Ing palakramane kalawan Dewi Wiyodi iku, Narada peputra Dewi Kanekawati kang sabanjure kapasrahake marang Resi Seta putrane Prabu Matswapati, raja ing nagara Wirata. Saliyane Dewi Kanekawati, Narada uga peputra Bathara Malangdewa.
Bathara Narada iku disuyudi dening sapa wae kang srawung kalawan dheweke. Iku amarga Narada iku watake grapyak semanak. Narada uga kondhang alim, pinter ing maneka warna ilmu, jujur, atine resik, pikirane lantip, seneng gegojegan, prigel olah kaprajuritan ananging uga temen-temen mandhita saengga antuk jejuluk resi. Saliyane iku praupane Narada uga bagus.
Ing sawijining wektu nalika Narada mbangun tapa ing sandhuwure banyu samodra, tangane nggegem sawijining cupu aran Linggamanik. Nalika iku Narada mertapa kanthi pangajab antuk kasekten lan kawibawan kang luwih.
Patrape Narada iku kaweruhan dening Sang Hyang Manikmaya kang sabanjure tumeka ing papan mertapane Narada. Sawise sapatemon, kalorone banjur andon wasis maneka ilmu, ananging Sanghyang Manikmaya ora bisa ngasorake. Kalorone banjur prang tandhing adu kekuwatan lan kasekten.
Wusanane Sanghyang Kanekaputra bisa diasorake dening Manikmaya kanthi sarana aji Kemayam saengga Kanekaputra malih rupa dadi cendhek awake lan ala praupane Wiwit kedadeyan iku Sang Hyang Kanekaputra antuk sesebutan Narada. Sabanjure sinengkakake minangka tuwangga utawa patih ing Suralaya.
Kabeh Dewa lan Dewaputra suyud lan manut marang Narada karana kalantipan lan kapinterane. Malah Sang Hyang Manikmaya dhewe tansah antuk pituduh lan pamrayoga saka Narada. Tanpa Narada ing Suralaya, Ngarcapada bakal tansah kisruh.
Kacihna akeh prekara kanggo ngatur Tribuwana lan racake uga angel ngudhari maneka prekara iku, Bathara Narada tansah seneng atine ngadhepi maneka prekara iku lan tansah kasil antuk dalan kanggo ngrampungi. Narada tansah bisa ngrampungi maneka prekara kanthi pratitis.
Dening Batara Guru, Narada asring sinebut ”kakang”. Mula bukane nalika andon wasis maneka rupa ngelmu, Bathara Guru tansah kalah saengga nuwuhake rasa nesu marang Narada lan banjur nyepatani Narada.
Ananging karana Narada duwe ngelmu kang luwih dhuwur, dheweke banjur sinengkakake minangka tuwangga utawa patih ing Suralaya lan dianggep luwih tuwa. Wiwit iku Sang Hyang Manikmaya utawa Bathara Guru tansah nyeluk Narada kanthi sesebutan ”Kakang Narada”.
Ing crita liyane, nalika Bathara Narada sapatemon kalawan Bathara Guru, Narada diece dening Bathara Guru kanthi ukara yen Bathara Narada iku tangane papat. Nalika mertapa ing sandhuwure banyu samodra iku, Narada nganggo klambi ananging tangane sing loro ora dilebokake ing lengene klambi, saengga katon kaya-laya tangane papat. Saka pangecene Bathara Guru marang Narada iku malah Bathara Guru dhewe kang kena sepata, saengga tangane dadi papat.
Batara Guru adalah nama lain Siwa.
Selain dikenal dalam kisah wayang, nama Batara Guru juga dikenal dalam mitologi Batak sebagai dewa yang tinggal di Banua Ginjang.